Selasa, 12 Desember 2017

Artikel

AKU DAN PENGALAMNKU MENJADI GURU

Dalam proses kehidupan manusia, dibutuhkan kegiatan pembelajaran untuk mencapai pendidikan atau ilmu pengetahuan yang telah ditempuh. “Pembelajaran merupakan bagian dari pendidikan dan spesifik, proses dimana lingkungan seseorang dengan sengaja dikelola (managed) agar ia dapat belajar atau melibatkan diri dalam perilaku yang spesifik dengan kondisi tertentu ataupun agar ia dapat memberikan respons terhadap situasi yang spesifik” (Dwiyogo, 2010:3). Sedangkan menurut Setyosari (2001:14), menyatakan bahwa “pembelajaran adalah penyajian informasi dan aktivitas-aktivitas yang memudahkan si belajar untuk mencapai tujuan khusus belajar yang diharapkan. ” Penyajian informasi tersebut disajikan oleh guru secara langsung.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 159) “pembelajaran juga berarti meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, dan keterampilan siswa. Kemampuan - kemampuan tersebut diperkembangkan bersama dengan pemerolehan pengalaman - pengalaman belajar sesuatu.” Berdasarkan berbagai pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yaitu bagian dari pendidikan yang bertujuan untuk memfasilitasi belajar orang dalam meningkatkan kemampuan afektif, kognitif, dan keterampilan.
Di dalam pembelajaran terdapat beberapa tujuan yang harus dicapai. Menurut Dwiyogo (2010:205) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran adalah “untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Peningkatan kualitas pembelajaran dilakukan dengan cara memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil yang diinginkan”. Pembelajaran yang akan dilaksanakan harus dirancang dengan baik dan tidak boleh sembarangan. Menurut Setyosari (2001:10), bahwa tujuan pembelajaran yang dirancang adalah “ingin membantu setiap orang (si belajar) mengembangkan diri secara optimal mungkin, menurut perkembangan individualnya masing-masing.”
Perancangan pembelajaran juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Menurut Dwiyogo (2010:205) usaha meningkatkan kualitas pembelajaran dilakukan oleh perancang pembelajaran dengan pijakan asumsi tentang hakekat rancangan pembelajaran yaitu: 1) Perbaikan kualitas pembelajaran diawali dengan rancangan pembelajaran; 2) pembelajaran dirancang dengan menggunakan pendekatan sistem; 3) rancangan pembelajaran didasarkan pada pengetahuan tentang bagaimana seseorang belajar; 4) rancangan pembelajaran diacukan kepada belajar secara perseorangan; 5) hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan hasil pengiring; 6) sasaran akhir rancangan pembelajaran adalah memudahkan belajar; 7) rancangan pembelajaran mencakup semua variabel yang mempengaruhi belajar.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan pembelajaran adalah untuk mengembangkan diri secara optimal mungkin dengan cara memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui metode dan rancangan pembelajaran yang optimal sehingga dapat mencapai hasil yang diinginkan.
Dalam proses pembelajaran tentunya akan ada saja hambatan yang terjadi, hambatan tersebut bisa saja ditimbulkan oleh siswa, guru itu sendiri, atau bisa juga karena masalah waktu. Misalnya, ada satu pembelajaran yang tidak bisa dilaksanakan karena hari itubertepatan dengan hari libur nasional. Untuk dapat melakukan pembelajaran yang menyenangkan makan guru harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan benar dan sesuai dengan kebutuhan siswa agar siswa tidak merasa bosan, dan juga saat proses pembelajaran sedang berlangsung guru harus mampu mengendalikan kelas agar pembelajaran tetap kondusif dan berjalan dengan baik.
Membahas mengenai pembelajaran, saya juga mempunyai pengalaman bagaimana rasanya melaksanakan pembelajaran dan itu juga menjadi pengalaman pertama saya. Saya diberi tugas untuk simulasi mengajar di SD dan lokasi yang saya pilih yaitu di SDN Simpang 3 kota Cilegon. Saya melakukan simulasi mengajar di sana selama satu bulan dan melakukan 4 kali pertemuan. Hal pertama yang pikirkan pada saat itu (sebelum pembelajaran dimulai) ialah saya pasti bisa, materi di sekolah dasar tidak sesulit materi yang ada di SMP, SMA, bahkan kuliah. Namun, di hari pertama saya melakukan simulasi mengajar yaitu pada tanggal 25 Oktober 2017 di SDN Simpang 3 kelas 3, seketika pemikiran saya berubah dan menyadari bahwa mengajar siswa sekolah dasar tidak semudah yang dibayangkan.
Hari pertama mengajar saya merasa senang karena para guru di sekolah tersebut menyambut saya dengan senang hati dan mempercayakan pembelajaran di kelas 3 kepada saya. Selanjutnya, ketika saya masuk ke kelas saya pun disambut dengan gembira oleh siswa dan mereka terlihat bersemangat untuk memulai pembelajaran. Saya pun segera memulai pembelajaran dengan meminta ketua kelas untuk memimpin do’a sebelum belajar. Setelah berdo’a selanjutnya saya menjelaskan materi yang akan dipelajari dan menanyakan kepada siswa tentang materi tersebut.
Di awal – awal pembelajaran suasana kelas terasa menyenangkan karena siswa dapat mendengarkan dengan baik apa yang saya katakan, siswa pun memulai pembelajaran diawali dengan membaca teks yang ada di dalam buku siswa. Setalah itu siswa melanjutkan pembelajaran dengan mengerjakan soal dalam buku secara berkelompok. Mulai dari sinilah saya mengalami kesulitan karena ada siswa yang tidak ikut dalam mengerjakan soal bersama kelompoknya dan malah berlari – larian di dalam kelas, bahkan sampai ada yang keluar kelas karena main kejar – kejaran dengan temannya. Akhirnya saya menanganinya satu persatu kepada siswa yang ribut tadi sembari mengawasi pengerjaan soal di masing – masing kelompok. Tidak berhenti sampai di situ, setelah selesai mengerjakan soal dan mengemukakan jawaban, saya kembali melanjutkan pembelajaran dengan menjelaskan materi selanjutnya. Di sini siswa mulai terlihat malas, tidak seperti pada awal pembelajaran. sayapun terpikirkan dengan mengajak siswa untuk melakukan senam semangat dengan musik yang telah saya siapkan. Siswa terlihat bersemangat kembali meskipun senam semangat belum dilakukan. Setelah melakukan senam semangat, pembelajaran kembali berjalan dengan baik sampai pembelajaran selesai. Dalam pembelajaran ini, saya merasa sangat gugup, panas dingin, bahkan sesekali perut saya terasa mulas. Mungkin itu disebabkan karena saya terlalu menganggap mudah dan tidak mempersiapkan pembelajaran dengan benar. Dari situlah pemikiran saya berubah.
Selanjutnya hari kedua mengajar yang dilaksanakan pada hari rabu tanggal 01 November 2017, saya pun masuk ke kelas dan saya dibuat kaget dengan respon siswa yang begitu senang, ada salah satu siswa yang berkata “yey kakak ngajar lagi” dan itu membuatnya saya merasa sangat senang walaupun saya tidak tahu apa alasan siswa itu senang saya datang. Pada pembelajaran hari ini saya sudah mulai mengenal beberapa nama siswa dan karakter siswa masing – masing, hal ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan pembelajaran. pembelajaran berlangsung dengan baik sampai akhirnya setelah sampai pada pertengahan pembelajaran lagi – lagi ada siswa yang ribut dan malah asik ngobrol dengan teman sebangkunya, ditambah lagi ada beberapa siswa yang malah mengajak bermain dengan saya dan menunda pembelajaran. Saya pun berpikir untuk mengikuti apa mau siswa dan saya melakukan games yang melibatkan semua siswa, beruntungnya siswa menikmati game tersebut dan setelah itu siswa mau mendengarkan saya, lalu saya memulai pembelajaran kembali. Saat pembelajaran kembali berjalan pun ternyata masih ada siswa yang asik ngobrol namun dapat diatasi dan tidak sesulit seperti di awal.
Pada hari-hari berikutnya saya sangat mulai bisa memahami bagaimana menyenangkannya menjadi seorang guru, atau lebih tepatnya menjadi seorang kakak untuk mereka, karena mereka sangat senang jika diajar oleh orang baru termasuk saya. Pengalaman menjadi guru dalam waktu yang singkat adalah pengalaman yang tak pernah dilupakan. Saat hari pertama mengajar hal yang dilakukan adalah penyesuaian dengan anak-anak, hal ini dikarenakan siswa bermain dikelas. Kebetulan saya mengajar di kelas 3 dan masih termasuk kelas rendah, awalnya anak-anak sangat baik dan  kondusif saat mengajar hal ini karena mereka membiasakan dengan kehadiran saya sebagai guru pengganti di kelas. Namun beberapa pertemuan berikutnya diluar dugaan ternyata siswa menjadi lebih aktif dari biasanya, banyak sekali yang sering menangis karena masalah bola dan lain hal. Anak bermain di dalam kelas, pada awalnya saya merasa kesal namun wajar saja anak-anak tersebut aktif karena pada seusia mereka masih dalam tahap operasional konkrit.
Adapun banyak pengalaman yang saya dapatkan setelah proses mengajar ini, saya menjadi mengerti betapa susahnya seorang guru mendidik muridnya.Disamping harus memiliki kesabaran, pengetahuannya pun harus menghuni. Maka dengan jelas bukanlah hal mudah menjadi seorang guru. Hal ini sudah saya rasakan ketika mengajar di SD Simpang 3 dengan berbagai macam karakteristik siswa yang berbeda-beda, ada yang ramah ada pula anak yang aktif dan pasif dikelas. Semua itu membuat kelas menjadi berwarna.  Hal yang bisa saya dapatkan saat mengajar disana adalah pengalaman yang sangat berharga, baik dari segi bagaimana mengkondisikan kelas sampai memberikan pembelajaran yang menyenangkan untuk siswa.



Sabtu, 31 Desember 2016

Sertifikat


Hidup dalam Ilusi

Inilah salah satu salah paham terbesar manusia dalam hidupnya. Ia mengira ilusi sebagai kenyataan. Akhirnya, ia hidup dalam kebohongan. Dari kebohongan lahirlah penderitaan yang mendorong dia untuk membuat orang-orang sekitarnya juga menderita.
Uang dan nama baik sejatinya adalah kosong. Keduanya adalah ilusi. Ketika kita lapar, kita tidak bisa makan uang. Ketika kita haus, kita tidak bisa minum nama baik. Uang dan nama baik adalah sesuatu yang rapuh, sementara dan, dalam banyak kasus, justru berbahaya.
Perang dan pembunuhan dilakukan demi uang dan nama baik. Mereka yang memperolehnya menjadi tergantung padanya. Hidupnya berada dalam keadaan kompetisi terus menerus dengan orang-orang lain yang dianggap sebagai lawannya. Ia hidup dalam tegangan dan penderitaan terus menerus.
Orang yang berhasil memperoleh uang dan nama baik juga akan tiba di tujuan yang sama dengan orang yang miskin dan memiliki reputasi jelek, yakni kehampaan batin. Alih-alih memberikan kebahagiaan, uang dan nama baik justru membuat mereka takut dan agresif terhadap orang lain. Sejatinya, uang dan nama baik adalah sesuatu yang netral, yang bisa dipakai untuk mempertahankan hidup dan membantu orang lain. Namun, jika orang melekatkan dirinya pada kedua benda itu, maka masalah besar akan timbul.
Kriminalitas berakar dalam pada kelekatan manusia akan uang dan nama baik tersebut. Korupsi dan penipuan lahir dari kelekatan akan uang. Kehampaan dan ketergantungan pada narkoba serta alkohol lahir dari kelekatan pada nama baik. Semuanya adalah ilusi yang kosong dan rapuh.
Orang yang hidup semata untuk uang dan nama baik berarti hidup dalam ilusi. Mereka hidup dalam kepalsuan dan kebohongan. Justru mereka adalah orang-orang yang “lari dari kenyataan”. Kenyataan yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan kelekatan pada uang dan nama baik.
Maka dari itu, orang perlu untuk keluar dari ilusi yang mencengkramnya. Ia perlu keluar dari kebohongan dan penipuan yang ia peluk erat sebelumnya. Ia perlu untuk melihat dan memahami kenyataan sebagaimana adanya. Dari pemahaman tersebut, ia lalu bisa menjalani hidup yang penuh makna dan kebahagiaan.


Filsafat Keseimbangan: Manusia Sebagai Makhluk Sosial-Komplementer

Ada sebuah pemikiran yang menurut penulis menarik untuk dikritisi. Pemikiran ini membangkitkan social class-gap dan kemudian menyerukan untuk menolak menjadi orang-orang kelas bawah. Bahwa, orang-orang kelas bawah hanyalah orang-orang dengan mental rendah.
Sekilas pemikiran ini terlihat baik, terlebih untuk orang yang menganut harga diri harga mati. Namun yang perlu direnungkan, apakah memang benar demikian bahwa orang-orang kelas bawah hanyalah orang-orang dengan mental rendahan? Jika benar demikian, lantas siapakah orang-orang kelas bawah itu? Apa benar demikian?
Pemikiran tersebut adalah bibit arogansi. Disadari atau tidak, pemikiran itu telah mencap sebagian kalangan sosial masyarakat dengan stigma negatif. Dalam hal ini adalah orang-orang kelas bawah, yang menjadi korban pemikiran tersebut. Orang-orang yang terkena stigma negatif tersebut jika meyakini pemikiran yang demikian kemudian akan merasa perlu mengadakan sebuah “revolusi mental”, dia tak mau lagi menjadi orang yang dicap sebagai orang dengan “mental rendahan”. Akibatnya orang itu menghilangkan jati dirinya dan sibuk dalam kebimbangan mencari jati diri yang bukan dirinya, karena “diri”-nya telah ia buang, sesaat setelah ia memantapkan diri untuk melakukan “revolusi mental.”
Jika setiap orang meyakini pemikiran demikian, bahwa “kita tidak boleh menjadi bawahan”, yang akan terjadi adalah chaos. Selain beberapa kalangan yang akan kehilangan jati dirinya seperti yang telah penulis ungkapkan sebelumnya, setiap orang akan saling sikut-menyikut tumbang-menumbangkan karena pemikiran ini  menanamkan ambisi untuk menjadi seorang pemimpin. Ketika seorang pemimpin adalah orang yang menghalalkan segala cara untuk bisa mengalahkan pesaingnya, dengan kata lain secara ambisius, tak perlu diragukan lagi, nafsu lah yang akan mengontrolnya, membuat ia cenderung memperbudak orang-orang yang dibawahinya, yang seharusnya ia ayomi.
Padahal jika kita renungkan kembali, takkan ada pemimpin jika tak ada yang mau untuk dipimpin. Di sini yang perlu dilakukan untuk meluruskan pandangan adalah penggunaan kata “pemimpin” untuk menggantikan kata “atasan”. Tentu bukan hal yang buruk untuk menjadi orang yang dipimpin, karena orang yang dipimpin berjalan bersama dengan pemimpinnya. Namun jika yang digunakan adalah kata “atasan”, yang muncul setelahnya baik suka maupun tidak adalah kata “bawahan”, dan semua orang tak suka menjadi orang yang di bawah. Kata “bawahan” lebih mengarah kepada orang-orang yang tak memiliki kehendak bebas, orang-orang yang diperas dan diperbudak oleh orang yang berkuasa atasnya.


Politik dan Politisasi

Politisasi adalah upaya untuk menjadikan suatu hal sebagai pertarungan kepentingan tidak sehat yang merugikan banyak orang lainnya. Ini jelas berbeda dengan inti utama dari politik, yakni segala sesuatu yang terkait dengan banyak orang, sekaligus upaya untuk mewujudkan berbagai kemungkinan melalui kerja sama.
Politisasi ini terjadi setidaknya di tiga bidang. Yang pertama adalah bidang politik, terutama politik praktis. Politisasi membuat semua proses politik, seperti pembuatan kebijakan dan pemilihan kepala daerah, menjadi kotor dan menjijikan. Orang tidak lagi fokus pada hal-hal yang penting di dalam politik, seperti kredibilitas dan keterwakilan kepentingan rakyat banyak, melainkan pada manuver-manuver busuk yang membuat rakyat muak.
Fitnah dan kebohongan lalu menjadi bagian utama politik. Rakyat luas lalu merasa tak berdaya, dan tinggal menunggu waktu, sampai konflik berdarah terjadi, karena penderitaan yang tak lagi tertahankan.
Yang kedua adalah bidang ekonomi. Politisasi di bidang ekonomi berarti pemelintiran segala kebijakan ekonomi demi kepentingan segelintir pihak tertentu yang kaya dan berkuasa dengan mengorbankan kepentingan rakyat yang lebih luas.
Ekonomi neoliberalisme yang amat menekankan pasar bebas adalah produk nyata dari politisasi ekonomi semacam ini. Di dalam model ini, yang kuat dan kaya akan semakin beruntung, sementara yang sejak awal kekurangan sumber daya akan semakin terjerumus di dalam kemiskinan ekonomi.
Dua hal ini pun berpengaruh langsung bidang ketiga, yakni pendidikan. Politisasi pendidikan mengaburkan inti utama pendidikan yang luhur dan mulia, serta mengubahnya menjadi sistem pencetak robot-robot yang patuh buta terhadap tradisi, agama dan trend ekonomi sesaat.
Pendidikan pun kehilangan jiwanya. Yang tersisa adalah pabrik-pabrik manusia yang menciptakan kecemasan dan penderitaan bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya.


Pentingnya Perspektif

Pemahaman akan perspektif melibatkan tiga hal. Pertama, orang memahami hukum sebab akibat yang bekerja di dalam kenyataan. Kehidupan di alam semesta ini bukanlah sesuatu yang acak dan tanpa arah. Sebaliknya, alam semesta ini mengikuti hukum-hukum sebab akibat yang jelas dan pasti.
Ilmu pengetahuan modern telah berhasil mengungkap hal ini, sehingga ia bisa melahirkan banyak teknologi yang berguna untuk kehidupan manusia. Di dalam metode penelitian ilmiah, hubungan sebab akibat dikenal juga sebagai hukum aksi-reaksi, dan hukum stimulus-respons. Intinya, setiap tindakan pasti memiliki akibat. Inilah hukum pertama kehidupan yang perlu dipahami dan dihayati, jika orang menghendaki hidup yang damai.
Ia berlaku di berbagai bidang kehidupan, mulai dari kehidupan pribadi, hubungan antar manusia, tata ekonomi, tata politik sampai dengan gerak bintang-bintang di angkasa luas sana. Dengan kata lain, ia bersifat universal.
Dua, orang juga perlu memahami keterkaitan segala sesuatu di alam semesta ini. Segalanya mempengaruhi segalanya. Perubahan di satu tempat akan secara langsung membawa dampak pada tempat-tempat lainnya. Jika didalami, orang akan sampai pada satu kesadaran, bahwa semuanya adalah satu.
Tiga, orang juga memahami, bahwa segalanya berubah. Ini sesuai dengan ajaran kuno dari Herakleitos, pemikir Yunani, bahwa segalanya mengalir; orang tidak mungkin menginjakkan kaki di sungai yang sama. Jika orang sadar, bahwa segala sesuatu berubah, maka ia tidak akan menggenggam apapun dengan erat di dalam hidup ini. Ia akan belajar bersyukur, ketika sesuatu itu ada, dan bersikap rela, ketika sesuatu itu pergi.
Tiga hal ini adalah hukum-hukum kehidupan yang mendasar. Untuk sampai pada kebijaksanaan dan kebahagiaan, orang perlu untuk tidak hanya memahaminya, tetapi juga menghayati serta menjalankannya di dalam hidup sehari-hari.


Waktu dan Filsafat

Filsuf di awal abad pertengahan Eropa, yakni Agustinus, telah melihat perbedaan antara dua macam waktu, yakni waktu subyektif dan waktu obyektif. Waktu subyektif adalah waktu yang kita rasakan di dalam batin kita. Sementara, waktu obyektif adalah waktu sebagai mana tertera di dalam jam dan kalender. Ia adalah hari, jam dan tanggal yang digunakan sebagai panduan oleh banyak orang di dalam hidupya.
Waktu subyektif dan waktu obyektif berjalan dengan logika yang berbeda. Satu jam terkena macet di jalan dan satu jam bersama kekasih tercinta memiliki rasa yang amat berbeda. Secara obyektif, keduanya sama, yakni satu jam. Namun, secara subyektif, keduanya amatlah berbeda.
Di masa awal perkembangan ilmu pengetahuan modern di Eropa, pandangan tentang waktu subyektif pun disingkirkan. Yang tersisa kemudian adalah pandangan tentang waktu yang obyektif. Di sini, waktu dipandang sebagai sesuatu yang ada secara mandiri di luar diri manusia. Ia adalah bagian nyata dari alam yang bisa diukur.
Pandangan ini kemudian dikritik oleh Immanuel Kant, filsuf Pencerahan asal Jerman. Ia berpendapat, bahwa waktu adalah bagian dari akal budi manusia. Ia tidak berada di alam, melainkan di dalam pikiran manusia. Sebagai bagian dari pikiran manusia, waktu membantu manusia sampai pada pengetahuan tentang dunia.
Di dalam filsafatnya, Kant sudah menegaskan, bahwa waktu selalu terkait dengan ruang. Keduanya adalah bagian dari pikiran manusia. Pandangan ini dikembangkan selanjutnya oleh Albert Einstein. Ia melihat, bahwa waktu tidak pernah bisa dipisahkan dari ruang. Maka dari itu, ia merumuskan konsep ruang-waktu untuk menegaskan maksudnya.
Pada awal abad 20, Filsafat Barat menimba banyak sekali pemikiran dari Filsafat Timur, terutama tradisi Taoisme dan Buddhisme yang berkembang di Cina dan India. Di dalam Filsafat Timur, waktu dilihat sebagai persepsi manusia. Ia tidak bisa dipisahkan dari kedirian manusia itu sendiri.
Pandangan semacam ini sudah mengakar begitu dalam di dalam tradisi Cina dan India. Mereka melihat, bahwa waktu tak bisa dilepaskan dari pikiran manusia. Maka dari itu, bisa juga dirumuskan, bahwa waktu adalah aku. Jika Einstein melihat kaitan tak terpisahkan antara ruang-waktu, maka Filsafat Timur melihat kaitan yang tak terpisahkan antara aku-waktu.
Peradaban Eropa melihat waktu sebagai sesuatu yang linear, yakni sesuatu yang bergerak lurus. Ia terdiri dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Ketiganya dilihat sebagai tiga hal yang berbeda, walaupun saling berhubungan. Jika masa lalu sudah lewat, maka ia sudahlah berlalu, dan tak akan bisa kembali lagi.
Pandangan ini menjadi akar dari slogan yang populer tentang waktu, bahwa waktu adalah uang. Artinya, waktu adalah sumber daya yang bisa habis dipakai. Jika kita menggunakan waktu kita secara tidak produktif, maka kita seperti membuang uang saja. Pandangan waktu sebagai sesuatu yang lurus dan terbatas layaknya sumber daya inilah yang membuat kita merasa terus dikejar oleh waktu, dan memacu diri kita terus menerus untuk mewujudkan rencana-rencana kita dalam rentang waktu tertentu.
Namun, pandangan ini tidak universal. Ada pandangan yang lain tentang waktu, yakni waktu sebagai lingkaran. Ia tidak lurus, dan tidak terbagi terpisah antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Di dalam pandangan waktu sebagai lingkaran, segala sesuatu akan berulang, dan membentuk pola yang tetap. Waktu bukanlah sumber daya yang terbatas. Sebaliknya, ia tak terbatas, dan akan menciptakan dirinya sendiri berulang-ulang tanpa henti.
Martin Heidegger, filsuf Jerman di awal abad 20, menimba pemikiran dari kedua tradisi tersebut. Baginya, waktu adalah horison hidup manusia. Dalam arti ini, manusia adalah mahluk yang mampu mempertanyakan dasar dari seluruh kenyataan yang ada. Ia berada di dalam kenyataan, dan selalu hidup di dalam tiga kategori waktu yang terjadi secara bersamaan, yakni masa lalu, masa kini dan masa depan.