Ada sebuah pemikiran yang menurut penulis menarik untuk dikritisi.
Pemikiran ini membangkitkan social class-gap dan
kemudian menyerukan untuk menolak menjadi orang-orang kelas bawah. Bahwa, orang-orang kelas bawah hanyalah
orang-orang dengan mental rendah.
Sekilas pemikiran ini terlihat baik, terlebih untuk orang yang menganut harga diri harga mati.
Namun yang perlu direnungkan, apakah memang benar demikian bahwa orang-orang kelas bawah hanyalah
orang-orang dengan mental rendahan? Jika benar demikian, lantas siapakah orang-orang kelas bawah itu?
Apa benar demikian?
Pemikiran tersebut adalah bibit arogansi. Disadari atau tidak, pemikiran
itu telah mencap sebagian kalangan sosial masyarakat dengan stigma negatif.
Dalam hal ini adalah orang-orang kelas bawah, yang menjadi korban pemikiran
tersebut. Orang-orang yang terkena stigma negatif tersebut jika meyakini
pemikiran yang demikian kemudian akan merasa perlu mengadakan sebuah “revolusi
mental”, dia tak mau lagi menjadi orang yang dicap sebagai orang dengan “mental
rendahan”. Akibatnya orang itu menghilangkan jati dirinya dan sibuk dalam
kebimbangan mencari jati diri yang bukan dirinya, karena “diri”-nya telah ia
buang, sesaat setelah ia memantapkan diri untuk melakukan “revolusi mental.”
Jika setiap orang meyakini pemikiran demikian, bahwa “kita tidak boleh
menjadi bawahan”, yang akan terjadi adalah chaos. Selain beberapa kalangan yang akan kehilangan
jati dirinya seperti yang telah penulis ungkapkan sebelumnya, setiap orang akan
saling sikut-menyikut tumbang-menumbangkan karena pemikiran ini
menanamkan ambisi untuk menjadi seorang pemimpin. Ketika seorang pemimpin
adalah orang yang menghalalkan segala cara untuk bisa mengalahkan pesaingnya,
dengan kata lain secara ambisius, tak perlu diragukan lagi, nafsu lah yang akan
mengontrolnya, membuat ia cenderung memperbudak orang-orang yang dibawahinya,
yang seharusnya ia ayomi.
Padahal jika kita renungkan kembali, takkan ada pemimpin jika tak ada
yang mau untuk dipimpin. Di sini yang perlu dilakukan untuk meluruskan
pandangan adalah penggunaan kata “pemimpin” untuk
menggantikan kata “atasan”. Tentu bukan hal yang buruk untuk menjadi
orang yang dipimpin, karena orang yang dipimpin berjalan bersama dengan
pemimpinnya. Namun jika yang digunakan adalah kata “atasan”, yang
muncul setelahnya baik suka maupun tidak adalah kata “bawahan”, dan
semua orang tak suka menjadi orang yang di bawah. Kata “bawahan” lebih
mengarah kepada orang-orang yang tak memiliki kehendak bebas, orang-orang yang
diperas dan diperbudak oleh orang yang berkuasa atasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar