Politisasi adalah upaya
untuk menjadikan suatu hal sebagai pertarungan kepentingan tidak sehat yang
merugikan banyak orang lainnya. Ini jelas berbeda dengan inti utama dari
politik, yakni segala sesuatu yang terkait dengan banyak orang, sekaligus upaya
untuk mewujudkan berbagai kemungkinan melalui kerja sama.
Politisasi ini terjadi
setidaknya di tiga bidang. Yang pertama adalah
bidang politik, terutama politik praktis. Politisasi membuat semua proses politik,
seperti pembuatan kebijakan dan pemilihan kepala daerah, menjadi kotor dan
menjijikan. Orang tidak lagi fokus pada hal-hal yang penting di dalam politik,
seperti kredibilitas dan keterwakilan kepentingan rakyat banyak, melainkan pada
manuver-manuver busuk yang membuat rakyat muak.
Fitnah dan kebohongan lalu
menjadi bagian utama politik. Rakyat luas lalu merasa tak berdaya, dan tinggal
menunggu waktu, sampai konflik berdarah terjadi, karena penderitaan yang tak
lagi tertahankan.
Yang kedua adalah
bidang ekonomi. Politisasi di bidang ekonomi berarti pemelintiran segala
kebijakan ekonomi demi kepentingan segelintir pihak tertentu yang kaya dan
berkuasa dengan mengorbankan kepentingan rakyat yang lebih luas.
Ekonomi neoliberalisme yang
amat menekankan pasar bebas adalah produk nyata dari politisasi ekonomi semacam
ini. Di dalam model ini, yang kuat dan kaya akan semakin beruntung, sementara
yang sejak awal kekurangan sumber daya akan semakin terjerumus di dalam
kemiskinan ekonomi.
Dua hal ini pun berpengaruh
langsung bidang ketiga, yakni
pendidikan. Politisasi pendidikan mengaburkan inti utama pendidikan yang luhur
dan mulia, serta mengubahnya menjadi sistem pencetak robot-robot yang patuh
buta terhadap tradisi, agama dan trend ekonomi sesaat.
Pendidikan pun kehilangan
jiwanya. Yang tersisa adalah pabrik-pabrik manusia yang menciptakan kecemasan
dan penderitaan bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar