Senin, 26 Desember 2016

Bahasa Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah

Bahasa merupakan komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah maupun berpikir alamiah. Bahasa memegang peran penting, dan suatu hal yang lazim dalam kehidupan manusia. Kelaziman ini membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, seperti bernapas dan berjalan.
Dalam konteks bahasa ilmiah tentu memiliki karakter tersendiri, yakni: Pertama, informatif yang berarti bahwa bahasa ilmiah mengungkapkan informasi atau pengetahuan. Informasi atau pengetahuan ini dinyatakan secara eksplisit dan jelas untuk menghindari kesalahpahaman informasi. Kedua, reproduktif, yaitu bahwa pembicara atau penulis menyampaikan informasi yang sama dengan informasi yang diterima oleh pendengar atau pembaca. Ketiga, intersubjektif, yaitu ungkapan yang dipakai mengandung makna yang sama bagi para pemakainya. Keempat, antiseptik, berarti bahwa bahasa ilmiah itu objektif dan tidak memuat unsur emotif, kendatipun pada kenyataannya unsur emotif ini sulit dilepaskan dari unsur informatif.
Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah. Yang dimaksud bahasa di sini yaitu bahasa ilmiah yang merupakan sarana komunikasi ilmiah yang ditujukan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan-pengetahuan.
Bahasa ilmiah sebagai sarana dalam menyampaikan informasi dalam kegiatan ilmiah berupa pengetahuan, tentu berbeda dengan bahasa agama. Bahasa ilmiah dalam tulisan ilmiah selalu dituntut secara deskriptif, sehingga memungkinkan pembaca untuk ikut menafsirkannya lebih jauh. Bahasa agama, selain menggunakan bentuk deskriptif, dalam menjelaskan juga berbentuk prespektif, yaitu struktur makna yang dikandung selalu bersifat imperatif dan persuasif dimana si penulis menghendaki si pembaca mengikuti pesan penulis yang terdapat dalam tulisan. Dengan demikian, dapat dipahami perbedaan bahasa ilmiah dan agama. Bahasa ilmiah dapat digunakan dalam bahasa agama, namun bahasa agama tidak selalu dapat digunakan dalam bahasa ilmiah.


Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar