Metode ini mempelajari filsafat berdasarkan masalah
dan perkembangannya di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai sumber filsafat,
misalnya Yunani (dengan tokoh pertamanya Thales) yang secara umum membicarakan
tentang alam atau kosmos serta khususnya menyangkut hubungan subjek dan objek;
india (yang tokoh pertamanya Wedda) yang membicarakan alam dan khususnya
hubungan makhluk dengan tuhannya; Asia Tenggara, yang terutama membicarakan
tantang keseimbangan hidup dalam mengabdi kepada Tuhan; srta Cina (dengan tokoh
pertamanya Kong Hu Tzu) dan juga jepang yang banyak diwarnai oleh
masalah-masalah hubungan sosial.
Sering terjadi kelemahan atau kesalahan dalam
mempelajari filsfat dengan cara ini, ialah membanding-bandingkan filsafat di
suatu daerah dengan daerah lainnya, untuk kemudian membuat evaluasi, mana yang
lebih tinggi dari yang lainnya. Cara mempelajari filsafat dengan metode ini
akan berhadapan dengan perbedaan horizontal, ialah yang ini bukan ynag itu;
bukan perbdaan vertikal, ialah yang ini lebih tinggi dari yang itu.
Dalam hal mempelajari filsafat ini, kita bisa
memilih mana yang lebih dahulu atau salah satu dari hal itu, meskipun
penguasaan yang sebenarnya seharusnya meliputi seluruh jenis filsafat. Yang
paling banyak dianut orang adalah dimulai dari Sistematika Filsafat atau
filsafat sistematis, kemudian sejarah filsafat. Mengapa cara ini dipilih adalah
karena pada umunya prang telah terbiasa dengan belajar ilmu pengetahuan
konvesional; yang dimulai dengan pengenalan mengenai apa yang akan
dipelajarinya, baru kemudian masalah, dan yang lain-lainnya. Misalnya
mempelajari sejarah, geografi, atau batu-batuan, dimulai dengan apa yang
disebut ilmu sejarah, ilmu bumi, dan ilmu batu-batuan; misalnya dalam bentuk
pertanyaan mengenai pngertian dan definisnya. Baru selanjutnya memperbandingkan
hal itu disuatu tempat dengan tempat lainnya, disuatu masa dengan masa lainnya.
Sumber:
Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika
Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar