Rasionalisme
merupakan aliran yang mengakui bahwa pengetahuan itu pada hakikatnya didasarkan
pada akal (ratio). Karena akal merupakan
kesanggupan untuk berpikir, maka menurut rasionalisme, yang mewakili objek itu
adalah pikiran. Tanpa pikiran tentu tidak ada
yang dipikirkan, yang berarti tidak ada yang diketahui, tidak ada
pengetahuan. Rasionalisme menolak pengetahuan yang hanya didasarkan pada
pengamatan dan pengalaman semata-mata, karena hal itu merupakan pengetahuan
yang semu. Pengetahuan dapat menimbulkan kekhilafan atau bias pengamatan.
Tiga tokoh
rasionalisme yang utama adalah Rene Descartes, Leibnitz, dan Wolff.
Descartes adalah
seorang berkebangsaan Perancis yang mendapat ajaran tradisional pada biara
katolik. Sesudah lulus dari sekolah, ia merasa bahwa pengetahuan yang
didapatnya tidak cukup kokoh. Ia membakar buku-bukunya dan mulai menyusun suatu
pengetahuan, filsafat baru. Katanya, kalau akan memulai harus ada pangkal-titik
Archimides. Akhirnya ia sendiri menemukan titik pangkal yang tidak
diragu-ragukannya, yaitu bahwa ia tidak meragu-ragukan lagi jika ia sedang
ragu-ragu. Lalu ia merumuskan pangkal filsafatnya, yaitu Aku berpikir, jadi aku ada (cogito ergo sum). Jadi, akal (berpikir)
menjadi pangkal filsafatnya, dan karena itu pula aliran ini disebut sebagai
aliran rasionalisme.
Leibnitz adalah
seorang Jerman yang pada usia 17 tahun telah menjadi sarjana. Ia menjadi duta,
tetapi tidak meninggalkan ilmu pasti dan filsafat. Teorinya menyatakan bahwa
segala sesuatu itu terjadi dari monade, tidak
ada hubungannya dengan luar dan tidak mempunyai hubungan apapun. Oleh karena
itu, pengetahuan tidak berpangkal di luar diri kita, tetapi berpangkal pada
diri kita sendiri, akal. Leibnitz mengemukakan ‘Doctrine of innate idea’ (Innate = dibawa sejak lahir).
Gagasan-gagasan inilah yang membawa kita kepada pengetahuan. Pikiran didapat
dari diri kita sendiri, dibawa sejak lahir.
Wolff adalah juga
seorang Jerman yang merupakan eksponen dari rasionalisme. Ia seorang guru besar
yang menyebarkan filsafat yang berkembang pada saat itu, yaitu filsafat yang
bersifat rasional.
Kesimpulannya, kaum
rasionalis yakin bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan atas dasar rasio,
terlepas dari pengalaman. Apa yang dikatakan ratio itulah yang benar.
Pengetahuan kita didasarkan atas innate
ideas yang berpangkal pada rasio kita.
Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009.
Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar