Senin, 26 Desember 2016

Rasionalisme

Rasionalisme merupakan aliran yang mengakui bahwa pengetahuan itu pada hakikatnya didasarkan pada akal (ratio). Karena akal merupakan kesanggupan untuk berpikir, maka menurut rasionalisme, yang mewakili objek itu adalah pikiran. Tanpa pikiran tentu tidak ada  yang dipikirkan, yang berarti tidak ada yang diketahui, tidak ada pengetahuan. Rasionalisme menolak pengetahuan yang hanya didasarkan pada pengamatan dan pengalaman semata-mata, karena hal itu merupakan pengetahuan yang semu. Pengetahuan dapat menimbulkan kekhilafan atau bias pengamatan.
Tiga tokoh rasionalisme yang utama adalah Rene Descartes, Leibnitz, dan Wolff.
Descartes adalah seorang berkebangsaan Perancis yang mendapat ajaran tradisional pada biara katolik. Sesudah lulus dari sekolah, ia merasa bahwa pengetahuan yang didapatnya tidak cukup kokoh. Ia membakar buku-bukunya dan mulai menyusun suatu pengetahuan, filsafat baru. Katanya, kalau akan memulai harus ada pangkal-titik Archimides. Akhirnya ia sendiri menemukan titik pangkal yang tidak diragu-ragukannya, yaitu bahwa ia tidak meragu-ragukan lagi jika ia sedang ragu-ragu. Lalu ia merumuskan pangkal filsafatnya, yaitu Aku berpikir, jadi aku ada (cogito ergo sum). Jadi, akal (berpikir) menjadi pangkal filsafatnya, dan karena itu pula aliran ini disebut sebagai aliran rasionalisme.
Leibnitz adalah seorang Jerman yang pada usia 17 tahun telah menjadi sarjana. Ia menjadi duta, tetapi tidak meninggalkan ilmu pasti dan filsafat. Teorinya menyatakan bahwa segala sesuatu itu terjadi dari monade, tidak ada hubungannya dengan luar dan tidak mempunyai hubungan apapun. Oleh karena itu, pengetahuan tidak berpangkal di luar diri kita, tetapi berpangkal pada diri kita sendiri, akal. Leibnitz mengemukakan ‘Doctrine of innate idea’ (Innate = dibawa sejak lahir). Gagasan-gagasan inilah yang membawa kita kepada pengetahuan. Pikiran didapat dari diri kita sendiri, dibawa sejak lahir.
Wolff adalah juga seorang Jerman yang merupakan eksponen dari rasionalisme. Ia seorang guru besar yang menyebarkan filsafat yang berkembang pada saat itu, yaitu filsafat yang bersifat rasional.
Kesimpulannya, kaum rasionalis yakin bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan atas dasar rasio, terlepas dari pengalaman. Apa yang dikatakan ratio itulah yang benar. Pengetahuan kita didasarkan atas innate ideas yang berpangkal pada rasio kita.


Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar