Senin, 26 Desember 2016

Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan

Ilmu sebagai pengetahuan ilmiah berbeda dengan pengetahuan biasa, memiliki ciri tersendiri di antara ciri yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan seperti dikemukakan Konrad Kebug (2011), yaitu: Pertama, sistematis. Para filsuf dan ilmuan sepaham bahwa ilmu adalah pengetahuan atau kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Ciri sistematis ilmu menunjukkan bahwa ilmu merupakan berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan tersebut mempunyai hubungan saling ketergantungan yang teratur (pertalian tertib). Pertalian tertib dimaksud disebabkan adanya suatu asas tata tertib tertentu di antara bagian-bagian yang merupakan pokok soalnya.
Kedua, empiris. Bahwa ilmu mengandung pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengamatan serta percobaan secara terstruktur di dalam bentuk pengalaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ilmu mengamati, menganalisis, menalar, membuktikan, dan menyimpulkan hal-hal empiris yang bersifat faktawi (faktual), baik berupa gejala maupun kebatinan, gejala alam, gejala kejiwaan, gejala kemasyarakatan, dan sebagainya. Semua hal fakta yang dimaksud dihimpun dan dicatat sebagai data (datum) sebagai bahan persediaan bagi ilmu. Ilmu dalam hal ini bukan sekadar fakta, melainkan fakta yang dialami dalm suatu aktivitas ilmiah melalui pengalaman. Fakta bukan pula data, berbeda dengan fakta, data lebih merupakan berbagai keterangan mengenai sesuatu hal yang diperoleh melalui hasil pencerapan atau sensasi derawi.
Ketiga, objektif. Bahwa ilmu menunjukkan pada bentuk pengetahuan yang bebas dari prasangka perorangan (personal biasa), dan perasaan subjektif berupa kesukaan atau kebencian pribadi. Ilmu haruslah hanya mengandung pernyataan serta data yang menggambarkan secara terus terang atau menceminkan secara tepat gejala yang ditelaahnya. Objektivitas ilmu masyarakat bahwa kumpulan pengetahuan itu haruslah sesuai dengan objeknya (baik objek material maupun objek formalnya), tanpa diserang oleh keinginan dan kecondongan subjektif dari penelaahnya.
Keempat, analitis. Bahwa ilmu berusaha mencermati, mendalami, dan membedakan pokok soalnya ke dalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami sebagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian tersebut. upaya pemilihan atau penguraian suatu kebulatan pokok soal ke dalam bagian-bagian, membuat suatu bidang keilmuan senantiasa tersekat dalam cabang yang lebih sempit sasarannya. Melalui itu, masing-masing cabang ilmu itu membentuk aliran pemikiran keilmuan baru yang berupa ranting-ranting keilmuan yang terus dikembangkan secara khusus menuju spesialisasi ilmu.
Kelima, verifikatif. Bahwa ilmu mengandung kebenaran yang terbuka untuk diperiksa atau diuji (diverifikasi) guna dapat dinyatakan sah (valid) dan disampaikan kepada orang lain. Kemungkinan diperiksa kebenaran (verifikasi) dimaksudlah yang menjadi ciri pokok ilmu yang terakhir. Pengetahuan, agar dapat diakui kebenarannya sebagai ilmu, harus terbuka untuk diuji atau diverifikasi dari berbagai sudut telaah yang berlainan dan akhirnya diakui benar. Ciri verifikasi ilmu sekaligus mengandung pengertian bahwa ilmu senantiasa mengarah kepada tercapainya kebenaran.
Selain kelima ciri di atas, masih terdapat beberapa ciri tambahan lainnya, misalnya ciri instrumental dan ciri faktual. Ciri instrumental, dimaksudkan bahwa ilmu merupakan alat atau sarana tindakan untuk melakukan sesuatu hal. Ilmu dalam hal ini sukar, namun juga sangat mudah, dalam arti senantiasa merupakan sarana tindakan untuk melakukan banyak hal yang mengagumkan dan membanjiri dunia dengan ide-ide baru. Ilmu berciri faktual, dalam arti ilmu tidak memberikan penilaian baik atau buruk terhadap apa yang ditelaahnya, tetapi hanya menyediakan fakta atau data bagi si pengguna. Pandangan terakhir ini, oleh filsuf kritis telah diolah, karena menurut mereka ilmu sebagai suatu hasil budaya manusia, selalu bertautan atau berhubungan dengan nilai. Ilmu, karenanya tidak dapat membebaskan atau meluputkan diri dari nilai dan selalu harus bertanggung jawab atasnya.


Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar