Kamis, 22 Desember 2016

Jenis Kebenaran Epistemologi

Epistemologi adalah hakikat ketetapan susunan berpikir secara tepat dan digunakan untuk masalah-masalah yang bersangkutan, dengan maksud menemukan kebenaran yang berisi pernyataan “sesuatu yang ingin diketahui”. Secara umum epistemologi memiliki empat jenis kebenaran, yaitu kebenaran religius, kebenaran filosofis,kebenaran estetis, dan kebenaran ilmiah. Hal itu merupakan hasil dari aturan berpikir masing-masing.
Kebenaran yang pertama adalah kebenaran religius, yaitu kebenaran yang memenuhi atau didasari kaidah-kaidah agama atau keyakinan tertentu. Kebenaran religius juga disebut kebenaran mutlak, tidak dapat dibantah lagi karena telah diyakini. Bentu pemahamannya adalah dogmatis. Yang dimaksud dengan agama adalah ketentuan-ketentuan atau ajaran-ajaran yang diturunkan melalui wahyu oleh Tuhan Yang Maha Esa, bukan hasil pemikiran atau perenungan manusia.
Yang kedua, adalah kebenaran filsafati, ialah kebenaran sebagai hasil perenungan dan pemikiran refleksif ahli filsafat, yang disebut hakikat atau the nature, yang meskipun bersifat subjektif dan relatif, namun mendalam karena melalui penghayatan eksistensial, bukan hanya pengalaman empirik, dan pemikiran intelektual semata. Kebenara filososfis ini berguna untuk menyadarkan kita pada relatifnya pengetahuan yang kita miliki, tetapi justru karena itu, pengetahuan itu terus berubah, dalam arti berkembang.
Ketiga adalah kebenaran estetis, ialah kebenaran yang didasari oleh penilaian indah dan buruk, didasarkan atas cita rasa estetis, ialah keindahan yang antara lain berdasarkan harmoni (dalam pengertian luas) yang menimbulkan rasa senang, tenang, dan nyaman.
Keempat adalah kebenaran ilmiah yang ditandai oleh terpenuhinya syarat-syarat ilmiah mengenai kebenaran sesuatu, yang terutama menyangkut adanya teori yang menunjang dan kesesuaian dengan bukti, kebenaran rasioanal (hipotesis, teoretis) yang ditunjang hasil uji lapangan (eksperimentasi, bukti lapangan), yang disebut bukti empiris. Kebenaran teoretis adalah kebenaran yang didasarkan pada rasio, atau kebenaran rasional, berdasarkan teori-teori yang menunjangnya. Sedangkan yang dimaksud dengan bukti adalah bukti empirik, ialah hasil pengukuran objektif di lapangan. Sifat-sifat seperti objektif, berlaku umum, dapat diulang melalui eksperimentasi, serta immoral-ialah sesuai apa adanya, bukan apa yang seharusnya, merupakan ciri-ciri ilmu pengetahuan.

Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar