Epistemologi adalah hakikat ketetapan susunan
berpikir secara tepat dan digunakan untuk masalah-masalah yang bersangkutan,
dengan maksud menemukan kebenaran yang berisi pernyataan “sesuatu yang ingin
diketahui”. Secara umum epistemologi memiliki empat jenis kebenaran, yaitu
kebenaran religius, kebenaran filosofis,kebenaran estetis, dan kebenaran
ilmiah. Hal itu merupakan hasil dari aturan berpikir masing-masing.
Kebenaran yang pertama adalah kebenaran religius,
yaitu kebenaran yang memenuhi atau didasari kaidah-kaidah agama atau keyakinan
tertentu. Kebenaran religius juga disebut kebenaran mutlak, tidak dapat
dibantah lagi karena telah diyakini. Bentu pemahamannya adalah dogmatis. Yang
dimaksud dengan agama adalah ketentuan-ketentuan atau ajaran-ajaran yang
diturunkan melalui wahyu oleh Tuhan Yang Maha Esa, bukan hasil pemikiran atau
perenungan manusia.
Yang kedua, adalah kebenaran filsafati, ialah
kebenaran sebagai hasil perenungan dan pemikiran refleksif ahli filsafat, yang
disebut hakikat atau the nature, yang
meskipun bersifat subjektif dan relatif, namun mendalam karena melalui
penghayatan eksistensial, bukan hanya pengalaman empirik, dan pemikiran
intelektual semata. Kebenara filososfis ini berguna untuk menyadarkan kita pada
relatifnya pengetahuan yang kita miliki, tetapi justru karena itu, pengetahuan
itu terus berubah, dalam arti berkembang.
Ketiga adalah kebenaran estetis, ialah kebenaran
yang didasari oleh penilaian indah dan buruk, didasarkan atas cita rasa
estetis, ialah keindahan yang antara lain berdasarkan harmoni (dalam pengertian
luas) yang menimbulkan rasa senang, tenang, dan nyaman.
Keempat adalah kebenaran ilmiah yang ditandai oleh
terpenuhinya syarat-syarat ilmiah mengenai kebenaran sesuatu, yang terutama
menyangkut adanya teori yang menunjang dan kesesuaian dengan bukti, kebenaran
rasioanal (hipotesis, teoretis) yang ditunjang hasil uji lapangan
(eksperimentasi, bukti lapangan), yang disebut bukti empiris. Kebenaran
teoretis adalah kebenaran yang didasarkan pada rasio, atau kebenaran rasional,
berdasarkan teori-teori yang menunjangnya. Sedangkan yang dimaksud dengan bukti
adalah bukti empirik, ialah hasil pengukuran objektif di lapangan. Sifat-sifat
seperti objektif, berlaku umum, dapat diulang melalui eksperimentasi, serta immoral-ialah sesuai apa adanya, bukan
apa yang seharusnya, merupakan ciri-ciri ilmu pengetahuan.
Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009.
Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar