Dilihat dari
waktunya, logika dibagi menjadi dua macam, yaitu logika tradisional dan logika
modern. Dalam pembagian ini didasarkan pada pola berpikir ilmiah manusia.
Logika tradisional
adalah metode dan aturan berpikir logis mengikuti beberapa tokoh klasik,
seperti Aristoteles, Logikus dan sebagainya. Namun, perbedaannya adalah logika
tradisional tidak mengungkung dirinya hanya kepada tokoh-tokoh Rasionalis,
tokoh-tokoh klasik empiris, seperti kaum Stoa, Chrysippus, Johanes
Damascenus dan Boethius.
Jika logika
tradisional dapat dikatakan sebagai Aristoteles sentries, maka logika modern
sebaliknya. Dalam logika modern, logika-logika yang berpusat kepada Aristoteles
atau filsuf-filsuf klasik ditinggalkan. Era ini ditandai dengan penemuan logika
baru oleh Raymundus Lullus dengan istilahnya, ars magna.
Dalam logika
tradisional setidaknya perkembangannya dipengaruhi oleh rasional dan empirisme.
Namun begitu, kehadiran Lullus mencoba memberi warna baru dengan mengatakan
bahwasannya pengetahuan tidak hanya berpusat kepada rasionalis dan empirisme,
namun dimensi mistik perlu dipertimbangkan.
Berbeda dengan
Lullus, filsfus Jerman, Immanuel Kant lebih condong mengatakan bahwa metode
atau aturan logika berpusat kepada akal budi yang disintesiskan dari rasio dan
pengalaman inderawi. Selain itu, Henry Bergson (1859) juga menganggap tidak
hanya akal terbatas, pengalaman juga terbatas. Oleh karena itu, metode dan
aturan berpikir yang absah adalah intuisi.
Selain itu, menurut
Theodore Sider perkembangan logika modern merupakan perkembangan logika
matematika dan simbol. Dalam artian, logika modern melihat bahasa sebagai alatnya
dengan definisi formal, kalimat-kalimat formal dan sebagainya. Lebih lanjut, logika modern menggunakan teknik-teknik
matematika dalam menganalisa sebuah bahasa, salah satu contohnya adalah dengan
menggunakan rumus-rumus.
http://achwanruhayyun.blogspot.co.id/2015/11/logika-dalam-filsafat-dan-relevansinya.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar