Senin, 26 Desember 2016

Logika dilihat dari waktunya

Dilihat dari waktunya, logika dibagi menjadi dua macam, yaitu logika tradisional dan logika modern. Dalam pembagian ini didasarkan pada pola berpikir ilmiah manusia.
Logika tradisional adalah metode dan aturan berpikir logis mengikuti beberapa tokoh klasik, seperti Aristoteles, Logikus dan sebagainya. Namun, perbedaannya adalah logika tradisional tidak mengungkung dirinya hanya kepada tokoh-tokoh Rasionalis, tokoh-tokoh klasik empiris, seperti kaum Stoa, Chrysippus, Johanes Damascenus dan Boethius.
Jika logika tradisional dapat dikatakan sebagai Aristoteles sentries, maka logika modern sebaliknya. Dalam logika modern, logika-logika yang berpusat kepada Aristoteles atau filsuf-filsuf klasik ditinggalkan. Era ini ditandai dengan penemuan logika baru oleh Raymundus Lullus dengan istilahnya, ars magna.
Dalam logika tradisional setidaknya perkembangannya dipengaruhi oleh rasional dan empirisme. Namun begitu, kehadiran Lullus mencoba memberi warna baru dengan mengatakan bahwasannya pengetahuan tidak hanya berpusat kepada rasionalis dan empirisme, namun dimensi mistik perlu dipertimbangkan.
Berbeda dengan Lullus, filsfus Jerman, Immanuel Kant lebih condong mengatakan bahwa metode atau aturan logika berpusat kepada akal budi yang disintesiskan dari rasio dan pengalaman inderawi. Selain itu, Henry Bergson (1859) juga menganggap tidak hanya akal terbatas, pengalaman juga terbatas. Oleh karena itu, metode dan aturan berpikir yang absah adalah intuisi.
Selain itu, menurut Theodore Sider perkembangan logika modern merupakan perkembangan logika matematika dan simbol. Dalam artian, logika modern melihat bahasa sebagai alatnya dengan definisi formal, kalimat-kalimat formal dan sebagainya. Lebih lanjut, logika modern menggunakan teknik-teknik matematika dalam menganalisa sebuah bahasa, salah satu contohnya adalah dengan menggunakan rumus-rumus.


http://achwanruhayyun.blogspot.co.id/2015/11/logika-dalam-filsafat-dan-relevansinya.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar