Nilai dalam
filsafat disebut juga dengan aksiologi, atau disebut dengan teori “teori
tentang nilai”, nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk
melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yagn dinilai. Teori nilai yang
dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.
Makna “etika”
dipakai dalam dua bentuk arti, pertama, etika merupakan suatu kumpulan
pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia.
Arti kedua ,merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan
hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia lain. Seperti ungkapan “ia
bersifat etis atau ia seorang yang jujur atau pembunuhan merupakan suatu yang
tidak susila”.
Etika menilai
perbuatan manusia, maka lebih tepat kalau dikatakan bahwa obyek formal etika
adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika
mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik didalam
suatu kondisi yang normative, yaitu suatu kondisi yang melibatkan norma-norma.
Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang
dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.
Pokok persoalan
dalam etika keilmuan selalu mengacu kepada “elemen-elemen” kadiah moral, yaitu
hari nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma yang
bersifat utilitaristik(kegunaan). Hati nurani disini adalah penghayatan
tentang yang baik dan yang buruk yang dihubungkan dengan perilaku manusia.
Nilai dan norma
yang harus berada pada etika keilmuan adlaah nilai dan norma moral. Nilai moral
tidak berdiri sendiri, tetapi ketika ia berada pada atau menjadi milik
seseorang, ia akan bergabung dengan nilai yang ada seperti nilai agama, hukum,
budaya, dan sebagainya. Yang paling utama dalam nilai moral adalah yang terkait
dengan tanggung jawab seseorang. Norma moral menentukan apakah seseorang
berlaku baik ataukah buruk dari sudut etis. Bagi seorang ilmuwan, nilai dan
norma moral yang dimilikinya akan menjadi penentu, apakah ia sudah menjadi
ilmuwan yang baik atau belum.
Dibidang etika,
tanggung jawab seorang ilmuwan, bukan lagi memberi informasi namun harus
memberi contoh. Dia harus bersifat obyektif, terbuka, menerima kritik, menerima
pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yagn dianggap benar, dan berani
mengakui kesalahan. Semua sifat ini merupakan implikasi etis dari proses
penemuan kebenaran secara ilmiah. Ditengah situasi dimana nilai mengalami
kegoncangan, maka seorang ilmuwan harus tampil kedepan. Seorang ilmuwan harus
bersikap sebagai seorang pendidik dengan memberikan contoh yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar