Sabtu, 31 Desember 2016

Kebebasan dari Pikiran

Orang semacam ini mengalami kemelekatan pada pikirannya. Ia tidak sadar, bahwa pikirannya kosong, sementara dan tidak pasti. Karena kemelakatan ini, ia menganggap dirinya benar. Ia pun menjadi orang yang sombong. Sikap semacam ini mengundang banyak kesalahpahaman dan konflik.
Orang yang melekat pada pikirannya juga akan melekat pada pendapatnya. Ia mengira, pendapatnya memiliki kebenaran mutlak. Ia tidak sadar, bahwa pendapatnya pun tidak mencerminkan kenyataan apa adanya. Orang semacam ini juga akan terjebak pada penyakit yang sama, yakni arogansi, dan mendorong kesalahpahaman serta konflik dengan orang lain.
Kemelekatan pada pikiran juga menciptakan penderitaan. Orang diatur oleh pikirannya. Ketika senang, ia senang secara berlebihan. Ketika sedih, ia amat menderita, bahkan ingin bunuh diri.
Menyadari, bahwa setiap pikiran dan pendapat itu kosong, membuat orang mampu mengambil jarak pada pikiran dan pendapatnya. Ia pun bebas dari pikiran dan pendapatnya. Ia tidak lagi dijajah oleh pikiran maupun pendapatnya. Dengan keadaan ini, ia bisa menggunakan pikiran dan pendapatnya untuk menolong orang lain, dan bukan untuk menghina orang lain.
Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah dibarengi dengan kebebasan dari pikiran dan pendapat. Inilah kebebasan yang sejati. Inilah kebebasan manusia dewasa. Selama orang masih mengira, bahwa pikiran dan pendapatnya mencerminkan kebenaran mutlak, selama itu pula, ia akan menjadi manusia arogan yang gemar memicu konflik. Semua masalah di dunia lahir, karena orang melekat pada pikiran dan pendapatnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar