Orang semacam ini mengalami kemelekatan pada pikirannya. Ia tidak sadar, bahwa
pikirannya kosong, sementara dan tidak pasti. Karena kemelakatan ini, ia
menganggap dirinya benar. Ia pun menjadi orang yang sombong. Sikap semacam ini
mengundang banyak kesalahpahaman dan konflik.
Orang yang melekat pada pikirannya juga akan melekat pada pendapatnya.
Ia mengira, pendapatnya memiliki kebenaran mutlak. Ia tidak sadar, bahwa
pendapatnya pun tidak mencerminkan kenyataan apa adanya. Orang semacam ini juga
akan terjebak pada penyakit yang sama, yakni arogansi, dan mendorong
kesalahpahaman serta konflik dengan orang lain.
Kemelekatan pada pikiran juga menciptakan penderitaan. Orang diatur oleh
pikirannya. Ketika senang, ia senang secara berlebihan. Ketika sedih, ia amat
menderita, bahkan ingin bunuh diri.
Menyadari, bahwa setiap pikiran dan pendapat itu kosong, membuat orang
mampu mengambil jarak pada pikiran dan pendapatnya. Ia pun bebas dari pikiran
dan pendapatnya. Ia tidak lagi dijajah oleh pikiran maupun pendapatnya. Dengan
keadaan ini, ia bisa menggunakan pikiran dan pendapatnya untuk menolong orang
lain, dan bukan untuk menghina orang lain.
Kebebasan berpikir dan berpendapat haruslah dibarengi dengan kebebasan dari pikiran dan pendapat. Inilah kebebasan
yang sejati. Inilah kebebasan manusia dewasa. Selama orang masih mengira, bahwa
pikiran dan pendapatnya mencerminkan kebenaran mutlak, selama itu pula, ia akan
menjadi manusia arogan yang gemar memicu konflik. Semua masalah di dunia lahir,
karena orang melekat pada pikiran dan pendapatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar