Tercakup disini segala hal meliputi mind, mental, ruh bermain-mai. Maksud
lingkup filsafat pikiran ini, bagaimana kita dapat memahami sutu hal, baik
berupa benda fisik maupun bukan fisik. “masalah eksistensi pikiran yang cocok
dengan pemahaman kita tentang dunia adalah pusat dari filsafat pikiran,” kata
Baggini seperti di terjemahkan Nur Zaini Hae. Masalah utama dan tak
henti-hentinya yang dibicarakan filsafat pikiran ini, yaitu masalah hubungan
tubuh - pikiran atau badan - jiwa. Tentu ada masalah lain, seperti masalah
kesadaran dan ketidaksadaran. Namun masalah hubungan badan – jiwa ini bisa
dikatakan dominan.
Dalam hal ini, terdapat berbagai solusi, antara lain
dualisme, keprilakuan, fisikalisme, dan fungsionalisme. Salah satu dari
berbagai pikiran dualisme adalah dualisme substansi, yang berpendapat bahwa
jiwa dan badan atau pikiran dan materi, adalah dua hal yang berbeda. Materi
meliputi benda-benda fisik, baik asli maupun bikinan. Sementara pikiran adalah
hal lain yang tidak tampak secara fisik, tetapi merupakan bagian dari kehidupan
kita yang tidak bisa ditinggalkan, bahkan menjadi ciri khas atau identitas manusia.
Dalam aliran keprilakuan, behaviorism, perilaku dilihat sebagai wakil, baik fisik maupun
mental manusia. Hal ini disebabkan kegiatan mental tercermin dalam kegiatan
fisik atau perilaku manusia. Pandangan ini merupakan implementasi psikologis
dari pandangan ilmiah yang dimulai pada abad ke-17, yang menuntut adanya ciri
teramati dan terukur untuk setiap fenomenanya. Aliran ini menyatakan bahwa
psikologi adalah ilmu tentang perilaku. Kita tidak perlu membicarakan latar
belakang perilaku, mental, atau pikiran yang tidak terukur langsung (intagible).
Sumber:
Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika
Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar