Para ahli sering menyatakan bahwa dalam memahami
Hinduisme, seyogianya kita mempelajarinya bersama-sama dengan Buddhisme, baik
secara fisik maupun isi. Secara fisik, baik Hinduisme maupun Buddhisme lahir
dari seorang bijaksana yang lahir di sebelah Utara India. Hanya saja Buddha,
Siddharta Gautama, melakukan kontemplasi di Asia Tenggara, sementara Wedda di
India Selatan. Buddhisme lebih dari satu milenium merupakan wacana filosofis
penting di India (Craig, 2005), dan tujuh abad kemudian penurunan pengaruh.
Sangat kental terlihat bahwa Buddhisme merupakan sistem filsafat yang
mengandung aspek etika, epistemologi, dan metafisika. Wilayah pengaruh
Buddhisme meliputi India, Cina, Korea, dan Jepang, selain Asia Tenggara.
Pencerahan merupakan inti ajaran Buddha; bahkan Buddha
sendiri berarti “yang dicerahi”. Dasarnya adalah mencari jalan menuju
keselamatan. Dalam mencapai keselamatan, orang harus menemukan lebih dahulu
kebenaran. Ada empat kebenaran mulia dalam ajaran Buddha, ialah tentang
penderitaan, sebab penderitaan, melenyapkan penderitaan, dan tentang jalan
menuju pelenyapan penderitaan.
Saat Gautama keluar kompleks istana, ia menemukan
seseorang yang renta, orang yang sakit, dan orang yang mati. Ketiganya dimata
Buddha adalah penderitaan. Juga mereka dipisahkan dari orang yang dikasihi dan tidak
mencapai apa yang diinginkan. Semua yang melekat dengan kehidupan dunia adalah
penderitaan. Selain penderitaan, juga ada kesdihan, kesengsaraan, dan
ketidakbahagiaan, yang keseluruhannya disebut dukha.
Penyebab dukha adalah
adanya keinginan, meskipun ada keinginan yang baik, yaitu keinginan untuk
mencapai nirwana dan kesejahteraan bersama. Keinginan sebagai penyebab
penderitaan disebut tanha, yaitu
keinginan yang hanya menyangkut diri sendiri. Termasuk disini keserakahan,
pencarian kepuasan diri yang tidak terbatas, dan haus kekuasaan.
Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009.
Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar