Senin, 26 Desember 2016

Filsafat Buddha

Para ahli sering menyatakan bahwa dalam memahami Hinduisme, seyogianya kita mempelajarinya bersama-sama dengan Buddhisme, baik secara fisik maupun isi. Secara fisik, baik Hinduisme maupun Buddhisme lahir dari seorang bijaksana yang lahir di sebelah Utara India. Hanya saja Buddha, Siddharta Gautama, melakukan kontemplasi di Asia Tenggara, sementara Wedda di India Selatan. Buddhisme lebih dari satu milenium merupakan wacana filosofis penting di India (Craig, 2005), dan tujuh abad kemudian penurunan pengaruh. Sangat kental terlihat bahwa Buddhisme merupakan sistem filsafat yang mengandung aspek etika, epistemologi, dan metafisika. Wilayah pengaruh Buddhisme meliputi India, Cina, Korea, dan Jepang, selain Asia Tenggara.
Pencerahan merupakan inti ajaran Buddha; bahkan Buddha sendiri berarti “yang dicerahi”. Dasarnya adalah mencari jalan menuju keselamatan. Dalam mencapai keselamatan, orang harus menemukan lebih dahulu kebenaran. Ada empat kebenaran mulia dalam ajaran Buddha, ialah tentang penderitaan, sebab penderitaan, melenyapkan penderitaan, dan tentang jalan menuju pelenyapan penderitaan.
Saat Gautama keluar kompleks istana, ia menemukan seseorang yang renta, orang yang sakit, dan orang yang mati. Ketiganya dimata Buddha adalah penderitaan. Juga mereka dipisahkan dari orang yang dikasihi dan tidak mencapai apa yang diinginkan. Semua yang melekat dengan kehidupan dunia adalah penderitaan. Selain penderitaan, juga ada kesdihan, kesengsaraan, dan ketidakbahagiaan, yang keseluruhannya disebut dukha.
Penyebab dukha adalah adanya keinginan, meskipun ada keinginan yang baik, yaitu keinginan untuk mencapai nirwana dan kesejahteraan bersama. Keinginan sebagai penyebab penderitaan disebut tanha, yaitu keinginan yang hanya menyangkut diri sendiri. Termasuk disini keserakahan, pencarian kepuasan diri yang tidak terbatas, dan haus kekuasaan.


Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar