Seorang filosof
terbesar di dunia islam setelah Ibn Zina yaitu Mullah Sadrah yang dalam istilah
arab di sebut Sadrul muta'allihin , yang berarti dialah yang paling terbaik di
atara semua para filosof yang mempelajari hal-hal yang bersifat ketuhanan.
Mullah Sadrah adalah seorang filosuf yang berkebangsaan persia yang lahir pada
abad ke-16 hijriayah mungkin sekitar kurang lebih 400 tahun yang lalu.
Mullah Sadra di
masanya menggabungkan tiga epistemologi di dalam islam:
a.
Epistemologi kaum
mutakallimin. Kaum mutakallimin menganggap apa saja yang ada di dalam otak atau
apa saja yang bisa di terimah oleh akal pikiran yang sehat di sebut kebenaran,
dari mazhab inilah lahir apa yang di sebut pembenaran rasional terhadap
keimanan. Jadi alat utama dari seorang mutakallimin atau ilmu kalam adalah
rasio (al aql).
b. Kelompok sufi
(kelompok mistik) , yang menganut bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang kita
peroleh melalui intuisi, dan menganggap bahwa kebenaran yang di dasarkan pada
akal adalah kebenaran yang sangat rapuh, seperti ucapan "DJalaluddin Rumi
"di negri cinta akal di gantung", di sini kaum sufi mengandalkan
cinta sebagai alat dalam mencapai kebenaran.
c.
Mazhab fiqih , atau
ahli fiqih yang mengukur kebenaran berdasarkan teks-teks islam , mereka
menyebut keilmuannya sebagai al 'ulum an-naqliyah. jadi kebenaran itu di
dasarkan pada teks al-qur'an dan hadist Nabi bahkan kutipan para ulama.
Kaum mutakallimin
sering mengkritik para fuqaha' dengan mengatakan "Ahli fiqih itu adalah
"qila waqal " mengutif pembicaraan orang tak menggunakan akal dan intuisi
tapi hanya sekedar menggunakan kutipan dari berbagai pihak.
Mullah Sadra datang
denga membawa satu aliran baru dalam filsafat islam bahwa kebenaran itu
didasarkan pada tiga epistemologi di atas pasti akan mencapai kesepakatan bahwa
sesuatu itu benar dengan menggunakan akal , wahyu dan intuisi.
Filsafat Mullah Sadra
yang terkenal adalah " ittihad al 'aqil wal ma'qul" ,aqil adalah kita
yang sedang mempelajari ilmu, al ma'qul adalah yang kita pelajari. bisa
disederhanakan dengan kalimat "setiap kali kita mempelajari sesuatu kita
akan mengalami perubahan dalam diri kita ". Ada sebagian orang mengatakan
bahwa filsafat Mullah Sadra itu mengubah metafisika substansi dari Aristoteles
kepada metafisika perubahan dari kaum Neo Platonis. Intinya setiap kali kita
mempelajari sesuatu kita akan mengalami perubahan substansial di dalam diri
kita. perubahan itu di sebut oleh Mullah Sadrah sebagai "Al Haraqah al
jauhariyah (Gerakan Essesial dari kepribadian kita).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar