Sabtu, 31 Desember 2016

Tiga pilar filosofia Mullah Sadrah

Seorang filosof terbesar di dunia islam setelah Ibn Zina yaitu Mullah Sadrah yang dalam istilah arab di sebut Sadrul muta'allihin , yang berarti dialah yang paling terbaik di atara semua para filosof yang mempelajari hal-hal yang bersifat ketuhanan. Mullah Sadrah adalah seorang filosuf yang berkebangsaan persia yang lahir pada abad ke-16 hijriayah mungkin sekitar kurang lebih 400 tahun yang lalu.
Mullah Sadra di masanya menggabungkan tiga epistemologi di dalam islam:
a.       Epistemologi kaum mutakallimin. Kaum mutakallimin menganggap apa saja yang ada di dalam otak atau apa saja yang bisa di terimah oleh akal pikiran yang sehat di sebut kebenaran, dari mazhab inilah lahir apa yang di sebut pembenaran rasional terhadap keimanan. Jadi alat utama dari seorang mutakallimin atau ilmu kalam adalah rasio (al aql).
b.   Kelompok sufi (kelompok mistik) , yang menganut bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang kita peroleh melalui intuisi, dan menganggap bahwa kebenaran yang di dasarkan pada akal adalah kebenaran yang sangat rapuh, seperti ucapan "DJalaluddin Rumi "di negri cinta akal di gantung", di sini kaum sufi mengandalkan cinta sebagai alat dalam mencapai kebenaran.
c.       Mazhab fiqih , atau ahli fiqih yang mengukur kebenaran berdasarkan teks-teks islam , mereka menyebut keilmuannya sebagai al 'ulum an-naqliyah. jadi kebenaran itu di dasarkan pada teks al-qur'an dan hadist Nabi bahkan kutipan para ulama.
Kaum mutakallimin sering mengkritik para fuqaha' dengan mengatakan "Ahli fiqih itu adalah "qila waqal " mengutif pembicaraan orang tak menggunakan akal dan intuisi tapi hanya sekedar menggunakan kutipan dari berbagai pihak.
Mullah Sadra datang denga membawa satu aliran baru dalam filsafat islam bahwa kebenaran itu didasarkan pada tiga epistemologi di atas pasti akan mencapai kesepakatan bahwa sesuatu itu benar dengan menggunakan akal , wahyu dan intuisi.
Filsafat Mullah Sadra yang terkenal adalah " ittihad al 'aqil wal ma'qul" ,aqil adalah kita yang sedang mempelajari ilmu, al ma'qul adalah yang kita pelajari. bisa disederhanakan dengan kalimat "setiap kali kita mempelajari sesuatu kita akan mengalami perubahan dalam diri kita ". Ada sebagian orang mengatakan bahwa filsafat Mullah Sadra itu mengubah metafisika substansi dari Aristoteles kepada metafisika perubahan dari kaum Neo Platonis. Intinya setiap kali kita mempelajari sesuatu kita akan mengalami perubahan substansial di dalam diri kita. perubahan itu di sebut oleh Mullah Sadrah sebagai "Al Haraqah al jauhariyah (Gerakan Essesial dari kepribadian kita).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar