Senin, 26 Desember 2016

Filsafat Hindu

Filsafat Hindu diprakirakan telah ada pada abad ke-7 SM, sebagai periode proto-filosofis, kurang lebih sama dengan awal filsafat Yunani Kuno. Pada abad itu karma dan teori-teori liberasi bangkit, diikuti daftar proto ilmiah ontologis (Craig, 2005).
Weda berasal dari kata Veda,  sebagai bakal pemikiran Hinduisme, merupakan budaya yang dibangun dari buadaya Eropa dan India Utara. Wujud weda adalah tradisi lisan yang kemudian ditulis sebagai suatu petunjuk bagi manusia dalam menempuh kehidupannya. Itulah sebabnya weda sering dianggap sebagai wahyu, meskipun dikemudian hari dianggap lebih sebagai kebijaksanaan manusia, wahyu kosmik. Wahyu ini sebagai hasil kontemplasi dalam memahami kehidupan, semesta alam.
Para pemikir di bidang agama menganggap bahwa wahyu dalam weda berbeda dengan wahyu dalam agama seperti Islam dan Kristen, karena banyak memuat unsur budaya dan sejarah suatu bangsa atau ras, seperti sabda tetua adat atau guru. Sebagai bahasa, weda atau Veda dikenal sebagai induk dari bahasa sanskerta. Bersama-sama Upanishad dan Bhagavad Gita, Veda menjadi buku utama agama dan filsafat Hindu.
Dalam budaya, agama dan filsafat Hindu dikenal Rita yang berisikan petunjuk untuk mengatur dunia, alam semesta, dan segala isinya (Takwin, 2003). Oleh karena itu, Rita dapat dianggap sebagai kitab utama atau kitab mulia orang Hindu. Di dalam buku tersebut, diutarakan tentang sistem kasta yang menempatkan manusia ke dalam empat tingkatan, yaitu (1) brahmana, semula berarti korban, kemudian menjadi golongan manusia kelas tinggi, suci dan menduduki kasta tinggi; (2) ksatria, kasta dua, terdiri atas bangsawan dan raja yang mengatur kehidupan duniawi dalam rangka berkorban; (3) vaisya, kaum pekerja biasa, kelas menengah, dan menduduki kasta ketiga; dan (4) sudra, rakyat kecil.


Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar