Filsafat Hindu
diprakirakan telah ada pada abad ke-7 SM, sebagai periode proto-filosofis,
kurang lebih sama dengan awal filsafat Yunani Kuno. Pada abad itu karma dan
teori-teori liberasi bangkit, diikuti daftar proto ilmiah ontologis (Craig,
2005).
Weda berasal dari
kata Veda, sebagai bakal pemikiran Hinduisme, merupakan
budaya yang dibangun dari buadaya Eropa dan India Utara. Wujud weda adalah
tradisi lisan yang kemudian ditulis sebagai suatu petunjuk bagi manusia dalam
menempuh kehidupannya. Itulah sebabnya weda sering dianggap sebagai wahyu,
meskipun dikemudian hari dianggap lebih sebagai kebijaksanaan manusia, wahyu
kosmik. Wahyu ini sebagai hasil kontemplasi dalam memahami kehidupan, semesta
alam.
Para pemikir di
bidang agama menganggap bahwa wahyu dalam weda berbeda dengan wahyu dalam agama
seperti Islam dan Kristen, karena banyak memuat unsur budaya dan sejarah suatu
bangsa atau ras, seperti sabda tetua adat atau guru. Sebagai bahasa, weda atau Veda
dikenal sebagai induk dari bahasa sanskerta. Bersama-sama Upanishad dan Bhagavad Gita,
Veda menjadi buku utama agama dan
filsafat Hindu.
Dalam budaya, agama
dan filsafat Hindu dikenal Rita yang
berisikan petunjuk untuk mengatur dunia, alam semesta, dan segala isinya
(Takwin, 2003). Oleh karena itu, Rita dapat dianggap sebagai kitab utama atau
kitab mulia orang Hindu. Di dalam buku tersebut, diutarakan tentang sistem
kasta yang menempatkan manusia ke dalam empat tingkatan, yaitu (1) brahmana, semula berarti korban,
kemudian menjadi golongan manusia kelas tinggi, suci dan menduduki kasta
tinggi; (2) ksatria, kasta dua,
terdiri atas bangsawan dan raja yang mengatur kehidupan duniawi dalam rangka
berkorban; (3) vaisya, kaum pekerja
biasa, kelas menengah, dan menduduki kasta ketiga; dan (4) sudra, rakyat kecil.
Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009.
Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar