Filsafat postmodern atau kontemporer ditandai dengan keinginan untuk
mendobrak sifat-sifat filsafat modern yang mengagungkan keuniversalitasan,
kebenaran tunggal, dan kebebasnilaian. Karena itu, filsafat postmodern sangat
mengagungkan nilai-nilai relativitas dan mininarasi, berbeda dengan filsafat modern
yang mengagungkan narasi-narasi besar. Filsafat postmodern cenderung lebih
beragam dalam hal pemikiran.
Pada awal abad XX, di Inggris dan Amerika muncul alirn Pragmatisme yang
dipelopori oleh William James (1842-1910). Sebenarnya, pragmatisme awalnya diperkenalkan
oleh C.S. pierce (1839-1914). Menurutnya, kepercayaan menghasilkan kebiasaan,
dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan yang
dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan merupakan aturan bertindak. William
James berpendapat bahwa teori yaitu alat untuk memecahkan masalah dalam
pengalaman hidup manusia. Karena itu, teori dianggap benar, jika teori
berfungsi bagi kehidupan manusia. Adapun agama menurutnya, mempunyai arti
sebagai perasaan (feelings), tindakan
(acts), dan pengalaman individu
manusia ketika mencoba memahami hubungan dan posisinya di hadapan apa yang
mereka anggap suci.
Dengan demikian, keagamaan bersifat unik dan membuat individu meyadari
bahwa dunia merupakan bagian dari sistem
spiritual yang dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya. Agak
berbeda dengan William James, tokoh pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952)
menyatakan bahwa tugas filsafat yang terpenting yaitu memberikan pengarahan
pada perbuatan manusia dalam praktik hidup yang harus berpijak pada pengalaman.
Pada saat yang bersamaan, juga berkembang aliran fenomenologi di Jerman
yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Menurutnya, untuk mendapatkan
pengetahuanyang benar yaitu dengan menggunakan intuisi langsung karena dapat dijadikan
kriteria terakhir dalam filsafat. Baginya, fenomenologi sebenarnya merupakan
teori tentang fenomena, ia mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan
diri. Pada abad ini juga lahir aliran eksistensialisme yang dirintis oleh Soren
Kierkegaard (1813-1855).
Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia
Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar