Senin, 26 Desember 2016

Filsafat Postmodernisme Kontemporer

Filsafat postmodern atau kontemporer ditandai dengan keinginan untuk mendobrak sifat-sifat filsafat modern yang mengagungkan keuniversalitasan, kebenaran tunggal, dan kebebasnilaian. Karena itu, filsafat postmodern sangat mengagungkan nilai-nilai relativitas dan mininarasi, berbeda dengan filsafat modern yang mengagungkan narasi-narasi besar. Filsafat postmodern cenderung lebih beragam dalam hal pemikiran.
Pada awal abad XX, di Inggris dan Amerika muncul alirn Pragmatisme yang dipelopori oleh William James (1842-1910). Sebenarnya, pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C.S. pierce (1839-1914). Menurutnya, kepercayaan menghasilkan kebiasaan, dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan yang dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan merupakan aturan bertindak. William James berpendapat bahwa teori yaitu alat untuk memecahkan masalah dalam pengalaman hidup manusia. Karena itu, teori dianggap benar, jika teori berfungsi bagi kehidupan manusia. Adapun agama menurutnya, mempunyai arti sebagai perasaan (feelings), tindakan (acts), dan pengalaman individu manusia ketika mencoba memahami hubungan dan posisinya di hadapan apa yang mereka anggap suci.
Dengan demikian, keagamaan bersifat unik dan membuat individu meyadari bahwa dunia merupakan  bagian dari sistem spiritual yang dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya. Agak berbeda dengan William James, tokoh pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952) menyatakan bahwa tugas filsafat yang terpenting yaitu memberikan pengarahan pada perbuatan manusia dalam praktik hidup yang harus berpijak pada pengalaman.
Pada saat yang bersamaan, juga berkembang aliran fenomenologi di Jerman yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Menurutnya, untuk mendapatkan pengetahuanyang benar yaitu dengan menggunakan intuisi langsung karena dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat. Baginya, fenomenologi sebenarnya merupakan teori tentang fenomena, ia mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri. Pada abad ini juga lahir aliran eksistensialisme yang dirintis oleh Soren Kierkegaard (1813-1855).


Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar