Jika ada seseorang
yang bertanya, “dimanakah jiwamu?”, barangkali anda akan menunjuk tempurung
kepala anda dan mengatakan “disini”. Tetapi bila anda melakukan hal semacam itu
apakah tidak berarti anda mencampuradukkan pengertian jia dengan pengertian
benak? Selanjutnya anda mungkin ditanya, “jika jiwa anda terdapat dalam
tempurung kepala, apakah berarti bahwa pikiran anda terdapat di dalam tempurung
kepala anda? Dapatkah kita secara masuk akal berbicara mengenai pikiran yang
terdapat dalam ruang dan waktu.
Mungkin anda akan
menjawab, “pemikiran terjadi di dalam raga, dan sungguh bodoh untuk
menempatkannya di luar raga saya. Baiklah saya akui, kiranya merupakan suatu kekhilafan
untuk mengatakan tempat terdapatnya jiwa dalam arti yang sama dengan tempat
terdapatnya benak kita”. Dengan kata lain, sebagaimana ungkapan yang digunakan
oleh Leighton, jiwa itu bersifat trans-spasial (mengatasi segenap ruang).
Tentang hal ini, kiranya menjadi lebih jelas bila kita memperhatikan sejumlah
proses kejiwaan.
Tempat rasa sakit
terdapat pada suatu bagian raga kita dan dapat meliputi suatu lingkungan yang
lebih besar atau lebih kecil. Tetapi bagi seorang ahli ilmu jiwa, sesungguhnya
rasa sakit itu tidak terdapat di tempat yang kita rasakan, melainkan terdapat
pada jiwa kita. Sudah tentu yang dimaksudkannya ialah rangsangan tadi melalui
susunan syaraf kemudian dilanjutkan ke jiwa sebagai penerima rangsangan
terakhir yang membuahkan rasa sakit.
Sumber
: *Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Tiara Wacana Yogya:Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar