Sabtu, 31 Desember 2016

Jiwa Manusia Bersifat Trans-Spasial

Jika ada seseorang yang bertanya, “dimanakah jiwamu?”, barangkali anda akan menunjuk tempurung kepala anda dan mengatakan “disini”. Tetapi bila anda melakukan hal semacam itu apakah tidak berarti anda mencampuradukkan pengertian jia dengan pengertian benak? Selanjutnya anda mungkin ditanya, “jika jiwa anda terdapat dalam tempurung kepala, apakah berarti bahwa pikiran anda terdapat di dalam tempurung kepala anda? Dapatkah kita secara masuk akal berbicara mengenai pikiran yang terdapat dalam ruang dan waktu.
Mungkin anda akan menjawab, “pemikiran terjadi di dalam raga, dan sungguh bodoh untuk menempatkannya di luar raga saya. Baiklah saya akui, kiranya merupakan suatu kekhilafan untuk mengatakan tempat terdapatnya jiwa dalam arti yang sama dengan tempat terdapatnya benak kita”. Dengan kata lain, sebagaimana ungkapan yang digunakan oleh Leighton, jiwa itu bersifat trans-spasial (mengatasi segenap ruang). Tentang hal ini, kiranya menjadi lebih jelas bila kita memperhatikan sejumlah proses kejiwaan.
Tempat rasa sakit terdapat pada suatu bagian raga kita dan dapat meliputi suatu lingkungan yang lebih besar atau lebih kecil. Tetapi bagi seorang ahli ilmu jiwa, sesungguhnya rasa sakit itu tidak terdapat di tempat yang kita rasakan, melainkan terdapat pada jiwa kita. Sudah tentu yang dimaksudkannya ialah rangsangan tadi melalui susunan syaraf kemudian dilanjutkan ke jiwa sebagai penerima rangsangan terakhir yang membuahkan rasa sakit.


Sumber : *Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Tiara Wacana Yogya:Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar