Senin, 26 Desember 2016

Kritik Paham Rasionalisme Terhadap Empirisme

Rasionalisme yaitu aliran dalam filsafat yang mengutamakan rasio untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran. Paham rasionalisme mengkritik paham empirisme, bahwa metode empiris tidak memberi kepastian tetapi hanya sampai pada probabilitas yang tinggi. Kritik ini dituangkan dalam pemikiran sebagai berikut:
Pertama, metode empiris, dalam sains maupun dalam kehidupan sehari-hari, biasanya bersifat sepotong-sepotong (piece meal). Menurut pengakuan kaum rasionalis, mereka mencari kepastian dan kesempurnaan yang sistematis. Penelitian mereka dalam matematika, khusus geometri, mencoba tidak mempercayai pengalaman, tetapi hanya berdasarkan suatu penalaran. Menurut mereka, penalaran memadai untuk menyusun aksioma dasar yang universal memungkinkan kita dapat mengambil khusus dari aksioma tersebut. aksioma merupakan “self evident”, dan dapat dipercaya, bebas dari pengalaman.
Kedua, pengetahuan empiris (empirical knowledge). Pengetahuan empiris diperoleh atas bukti pengindraan dengan penglihatan, pendengaran, dan sentuhan indra lainnya, sehingga kita memiliki konsep dunia di sekitar kita. Paradigma pengetahuan empiris yaitu sains, yang hipotesis sains diuji dengan observasi atau eksperimen. Aliran yang menjadikan empiris (pengalaman) sebagai sumber pengetahuan disebut empirisme. Empirisme merupakan aliran dalam filsafat yang membicarakan pengetahuan. Empirisme beranggapan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman dengan jalan observasi atau pengindraan. Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan sehingga merupakan sumber dari pengetahuan manusia.
Ketiga, pengetahuan otoritas (authoritas knowledge). Kita menerima suatu pengetahuan itu benar bukan karena telah mengeceknya di luar dari diri kita, melainkan telah dijamin oleh otoritas (suatu sumber yang berwibawa, memiliki hak) di lapangan. Kita menerima pendapat orang lain, karena ia ialah seorang pakar dalam bidangnya. Misalnya, kita menerima petuah agama dari seorang kiai, karena beliau merupakan orang yang sangat ahli dan menguasai sumber aslinya (Al-Qur’an dan Sunnah). Kita sering mengutamakan pandangan kita dengan mengutip dari eksiklopedia atau hasil karya tulis para pakar yang terkenal. Pada zaman kerajaan, sabda raja merupakan petuah yang dianggap benar tidak salah karena raja merupakan manusia yang paling berkuasa.


Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar