Rasionalisme yaitu aliran dalam filsafat yang
mengutamakan rasio untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran. Paham
rasionalisme mengkritik paham empirisme, bahwa metode empiris tidak memberi
kepastian tetapi hanya sampai pada probabilitas yang tinggi. Kritik ini
dituangkan dalam pemikiran sebagai berikut:
Pertama,
metode empiris, dalam sains maupun dalam kehidupan sehari-hari, biasanya
bersifat sepotong-sepotong (piece meal).
Menurut pengakuan kaum rasionalis, mereka mencari kepastian dan kesempurnaan
yang sistematis. Penelitian mereka dalam matematika, khusus geometri, mencoba
tidak mempercayai pengalaman, tetapi hanya berdasarkan suatu penalaran. Menurut
mereka, penalaran memadai untuk menyusun aksioma dasar yang universal
memungkinkan kita dapat mengambil khusus dari aksioma tersebut. aksioma
merupakan “self evident”, dan dapat
dipercaya, bebas dari pengalaman.
Kedua,
pengetahuan empiris (empirical knowledge).
Pengetahuan empiris diperoleh atas bukti pengindraan dengan penglihatan,
pendengaran, dan sentuhan indra lainnya, sehingga kita memiliki konsep dunia di
sekitar kita. Paradigma pengetahuan empiris yaitu sains, yang hipotesis sains
diuji dengan observasi atau eksperimen. Aliran yang menjadikan empiris
(pengalaman) sebagai sumber pengetahuan disebut empirisme. Empirisme merupakan
aliran dalam filsafat yang membicarakan pengetahuan. Empirisme beranggapan
bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman dengan jalan observasi
atau pengindraan. Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam pengetahuan
sehingga merupakan sumber dari pengetahuan manusia.
Ketiga,
pengetahuan otoritas (authoritas
knowledge). Kita menerima suatu pengetahuan itu benar bukan karena telah
mengeceknya di luar dari diri kita, melainkan telah dijamin oleh otoritas
(suatu sumber yang berwibawa, memiliki hak) di lapangan. Kita menerima pendapat
orang lain, karena ia ialah seorang pakar dalam bidangnya. Misalnya, kita
menerima petuah agama dari seorang kiai, karena beliau merupakan orang yang
sangat ahli dan menguasai sumber aslinya (Al-Qur’an dan Sunnah). Kita sering
mengutamakan pandangan kita dengan mengutip dari eksiklopedia atau hasil karya
tulis para pakar yang terkenal. Pada zaman kerajaan, sabda raja merupakan
petuah yang dianggap benar tidak salah karena raja merupakan manusia yang
paling berkuasa.
Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia
Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar