Senin, 26 Desember 2016

Filsafat Cina

Filsafat Cina sangat penting untuk dipelajari. Selain telah berumur tua, filsafat Cina juga telah melahirkan berbagai macam wacana, antara lain ilmu pengetahuan yang tinggi. Misalnya kedokteran Cina dan kebudayaan tinggi lainnya.
Chan (1962) menulis filsafat cina dengan sangat bervariasi, berisi pemikiran lama dan baru; bersifat kebarat-baratan (western) ataupun asli; ekstrem ataupun moderat. Setiap pemikiran berusaha memperebutkan supremasi.
Secara umum filsafat Cina terbagi dalam dua kelompok yaitu aliran Khong Hu Tzu dan aliran filsafat ke barat. Pada abad ke XI lahir Neoconfusianisme. Bidang yang saat ini menjadi lahan perjuangan, meliputi (1) upaya mutakhir paham khong hu tzu untuk menyesuaikan diri kembali, (2) sedangkan dari barat, (3) berkembangnya buddhisme, dan (4) lahirnya filsaat rasional khong hu tzu baru.
Filsafat Cina yang mendasarkan diri pada pemikiran confucius merupakan seperangkat gagasan etika yang berorientasi pada praksis (Craig, 2005). Terutama menitikberatkan pada ikatan traidisional berupa tanggung jawab etis dan dao, atau kehidupan manusia yang baik dan ideal serta menyeluruh. Konsep-konsep utama yang dikemukakan selain dao adalah kebijakan.
Cina berkenalan dengan filsafat barat pada tahun 1897, ketika tulisan Huxley Evolution and Etics, diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, diikuti terjemahan pemikiran Millspencer, Darwin, dan Montesquieu menyusul kemudian pemikiran Schopenhauer, Kant, Nietzsche, Rousseau, Lamarck, kemudian Russel dan dari Esch. Pikiran-pikiran barat yang berkembang di Cina pada dasarnya adalah (1) Pragmatime, (2) Materialisme, (3) Neo-Realisme, (4) Vitalisme, dan (5) Idelaisme baru.


Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar