Filsafat Isyraqiyyah
atau iluminisme adalah sebuah pemikiran filosofis yang dasar epistemologinya
adalah hati atau intuisi. Secara prosedural, logika yang dibangun adalah sama
dengan logika emanasi dalam paripatetisme. Namun secara substansial keduanya
mempunyai perbedaan yang mendasar.
Tokoh pelopor
munculnya filsafat iluminatik ini adalah Suhrawardi. Filsafat Isyraqiyyah ini
pada mulanya digunakan Suhrawardi untuk mengkritik filsafat peripatetiknya Ibnu
Shina. Dalam serangannya yang mungkin paling sengit pada Ibnu Shina, Suhrawardi
menolak secara empatik pandangan Ibnu Shina sebagai filsof Timur (masyriqi).
Dalam pandangan Suhrawardi, filsafat Paripatetik yang diusung oleh Ibnu Shina
dan kawan-kawan tidak layak diklaim sebagai filsafat Timur. Ada perbedaan yang
mendasar antara filsafat paripatetik dengan filsafat Timur. Serangan dan kritik
utama Suhrawardi lebih merujuk pada buku yang berjudul Kararis al-Hikmah, yang
dinisbahkan oleh Ibnu Shina sebagai metode filsafat timur.
Pertama-tama
Suhrawardi menegaskan karaguan atas klaim Ibnu Shina bahwa Kararis didasarkan
atas prinsip-prinsip ketimuran. Kemudian, ia melanjutkannya dengan menolak
sengit penegasan Ibn Shina bahwa Kararis merupakan filsafat baru atas dasar
sepasang argumen berikut: Pertama, tidak ada filsafat Timur sebelum Suhrawardi
menciptakan filsafat iluminasi. Kedua, Suhrawardi bersikeras menunjukkan bahwa
Kararis sesungguhnya disusun semata-mata sesuai dengan kaidah-kaidah
Peripatetik (qawaid al-masyasya’in) yang sudah mapan, yang terdiri dari
masalah-masalah yang hanya dimasukkan dalam apa yang olehnya dikhususkan
sebagai philosophia generalis (al-hikam al-ammah).
Epistemologi
Isyraqiyyah
Dalam bagian dari
jenis keilmuan, filsafat iluminisme atau isyraqiyyah ini adalah bagian dari
pengetahuan khudluri (knowledge by preson). Ilmu khudluri adalah ilmu yang
didapatkan secara langsung oleh seseorang melalui pengalaman kehidupannya.
Dalam pengetahuan dan kesadaran ini, pengetahuan dan subyek serta obyek sama
sekali tidak dapat dipilah-pilah. Kemanunggalan subyek dan obyek pengetahuan
ini adalah istanta (instance/mishdaq) paling sempurna dari kehadiran obyek
pengetahuanb pada subyek pengetahuan. Karena prinsip dasar illuminisme adalah
bahwa mengetahui sesuatu berarti memperoleh pengalaman tentangnya, serupa
dengan intuisi primer terhadap determinan-determinan sesuatu. Apa yang ingin
dijelaskan oleh Suhrawardi dalam filsafatnya adalah pengalaman pribadinya
sendiri, yaitu pengalaman sehari-hari yang sampai pada titik tertentu ia bisa
mencapai realitas puncak tertinggi (ultimate reality).
Dengan demikian,
metodologi untuk mendapatkan pengetahuan ini bukanlah melalui cerapan indera,
tetapi melalui pelatihan spiritual atau riyadlah. Karena pengetahuan semacam
ini, saran yang dibutuhkan adalah kebersihan dan kesucian hati. Bagi seseorang
yang mencapai kebersihan hati, maka secara langsung ia akan mendapatkan
pengalaman tentang realitas hakiki (ultimate reality). Dalam perolehanya jiwa
atau hati (qolb) mengalami keterbukaan (mukasyafah) sehingga ia akan terlimpahi
oleh pancaran cahaya dari sumber cahaya itu sendiri. Sebagaimana yang dikatakan
oleh Suhrawardi sendiri bahwa prinsip filsafat Isyraqiyyah adalah mendapat
kebenaran lewat pengalaman intuitif, kemudian mengelaborasi dan
memverivikasinya secara logis rasional.
Kemudian bagaimana
gambaran atau bentuk dari pengetahuan iluminasi yang masuk kategori klhudluri
ini? Secara umum sebenarnya hampir sama dengan filsafat emanasi. Di situ
terdapat tangga-tangga wujud (existence) mulai dari wujud satu hingga sebelas.
Jadi secara formal bentuknya sama dengan filsafat emanasi dalam parepatatisme
yang mendahuluinya, dalam isyraqiyyah wujud mempunyai hirarki-hirarki, dari yang
paling atas sampai terbawah. Hanya saja kalau dalam filsafat emanasi setiap
tingkat diidentikkan dengan intelek, maka dalam filsafat Isyraqiyyah
tingkatan-tingkatan tersebut diidentikkan dengan nur (cahaya).
Jadi seperti yang
dijelaskan dalam filsafat paripatetik bahwa yang namanya wujud itu bukan satu
tingkat tetapi bertingkat-tingkat. Wujud ini diistilahkan dengan akal. Maka
dalam paripatetik selalu populer dengan istilah akal satu, akal dua, akal tiga
dan sebagainya. Ini merupakan penggambaran hirarkisitas aktualisasi wujud
tersebut. Semakin jauh tingkat wujud tersebut dari wujud utama, maka wujud
tersebut kualitasnya semakin rendah dan begitu sebaliknya, semakin tinggi
tingkatan wujud tersebut hingga mendekati aqal pertama maka kualitas wujud tersebut
semakin suci dan luhur.
Begitu juga dengan
iluminasi. Wujud di sini secara material diidentikan bukan dengan cahaya
melainkan dengan cahaya. Sehingga ada cahaya utama yang merupakan cahaya maha
cahaya, dari cahaya utama ini merupakan mewujudkan cahaya pertama, cahaya
pertama mewujudkan cahaya ke dua, dari cahaya ke dua mewujudkan cahaya ke tiga
dan seterusnya hingga sampailah cahaya yang terrendah yakni tingkatan cahaya
yang dekat dengan alam materi.
Sekarang
pertanyaannya adalah mengapa cahaya begitu penting dalam filsafat iluminismenya
Suhrawardi? Kenapa bukan aqal yang menjadi sarana atau materi utama dalam
mengartikulasikan filsafatnya? Karena ia lebih suka menggunakan keraifan lokal
(local wisdom) dari nenek moyangnya yaitu budaya zoroasterisme. Jadi pada
prinsipnya secara material, filsafat Suhrawardi ini bukan an sich dari Yunani
maupun dari wahyu Islam, tetapi yang terutama dalah dikonstruk dari budaya
lokal, yakni budaya ketimuran. Hikmatul Isyraqiyyah yang berarti kebijakan
Timur adalah pengalaman ilahiyah yang sudah ada sebelum Suhrawardi lahir yang
dibawa para wali-wali dan orang suci (Ancient Person). Ini merupakan wujud
obsesinya untuk mengkritik keras filsafatnya Ibnu Sina yang sebelumnya
dikatakan sebagai filsafat Timur seperti disinggung di atas. Jadi, melalui term
Hikmatul Isyraqiyyah ini Suharawardi hendak mengatakan bahwa filafat iluminisme
ini adalah filsafat yang khas sebagai representasi absah dari peradaban Timur,
karena secara sosio-cultural, ia diramu dari tradisi-tradisi klasik Timur yang
dikenal dengan tradisi zoroasterian.
Namun seperti yang
dikatakan di atas, meskipun ini merupakan jenis pengalaman spiritual, namun
ketika sudah didapatkan bukan berarti ia menjadi realitas yang tak
terbahasakan. Tetapi bagi Suhrawardi pengalaman itu justru harus
dikonfirmasikan, didiskursuskan secara logis.
Menurutnya ada
beberapa metode yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendapatkan
pengetahuan model iluminasi ini. Tahap pertama, seseorang harus membersihkan
diri dari kecenderungn diri, dari kecenderungn duniawi untuk menerima
pengetahuan duniawi. Kedua, setelah menempuh tahap pertama, sang filsof
memasuki tahap iluminasi yang di dalamnya ia mendapatkan penglihatan akan sinar
ketuhanan (An-nur Ilahiyah) serta mendapatkana apa yang disebut dengan cahaya
ilham (Al-Anwarus Sanihah). Ketiga, tahap pembangunan pengetahuan yang utuh, di
dasarkan atas logika diskursif. Keempat adalah tahap pengungkapan dan
penulisannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar