Senin, 26 Desember 2016

Perdalilan

Hubungan antara dua atau lebih pendapat, atau jika dua atau lebih pendapat digabungkan, akan terjadi suatu perdalilan yang dilambangkan dalam bentuk uraian. Uraian yang terpendek adalah alinea atau paragraf, yang menggambarkan suatu ide atau gagasan. Sejumlah alinea akan menghasilkan perdalilan yang lebih panjang, kompleks, dan menggambarkan gagasan yang lebih lengkap. Dalam perdalilan ini terdapat suatu wacana, atau lebih tepat argumentasi yang dibangun oleh beberapa kalimat. Perdalilan tampil dalam bentuk gabungan berbagai pendapat mengenai suatu masalah atau suatu masalah besar dengan beberapa masalah kecil yang merupakan bagiannya.
Banyak sekali jenis perdalilan, di antaranya yang sangat terkenal disebut “silogisme”. Silogisme adalah suatu upaya untuk menghubungkan atau menggabungkan atau menyintesiskan suatu pendapat (yang lebih umum, mayor) dengan pendapat lainnya (yang lebih khusus, minor) secara teratur dan tersusun bertingkat sehingga terbangun suatu wacana atau argumentasi yang memenuhi syarat-syarat logis.
Dalam perdalilan itu ditarik kesimpulan dari sejumlah pendapat yang disebut premis. Dengan kata lain, perdalilan itu merupakan pembuktian. Logika formal disebut formal karena hanya mempersoalkan aturan atau hukum-hukum yang mengatur ketepatan bentuk atau susunan pikiran dan tidak mempersoalkan kebenaran isi pikiran itu.
Logika formal pada dasarnya hanya mempersoalkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai kebenaran. Namun logika tidak menjamin tercapainya kebenaran; yang benar senantiasa tepat, tetapi yang tepat tidak selalu benar. Ketepatan merupakan syarat mutlak bagi kebenaran, tetapi untuk mencapai kebenaran, ketepatan saja tidak cukup.


Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar