Metode historis adalah cara mempelajari filsafat
berdasarkan urutan waktu perkembangan pemikiran filsafat yang telah terjadi,
sejak kelahirannya sampai saat ini, sepanjang dapat dicatat dan memenuhi
syarat-syarat pencatatan dan penulisan sejarah. Dalam pencatatan sejarah ini
terdapat periodesasi perkembangan pemikiran, mengenai berbagai masalah, yang
bisa saja berbeda untuk setiap ahli, karena mereka memiliki bahan pertimbangan
dan asumsinya sendiri-sendiri.
Terdapat pemahaman yang tidak sebenarnya tentang
sejarah, ialah melihat sejarah sebagai kumpulan data tentang kejadian-kejadian
tertentu pada waktu-waktu tertentu. Dengan pemikiran yang salah ini maka sejarah
sering dinilai sebagai ilmu pengetahuan yang susah, berat, menguras daya ingat.
Sebenarnya tidak demikian: memang dimulai dengan meyakini waktu, tempat, dan
kejadian sebagai usaha pertama, tetapi dicari faktor korelasi dan penyebabnya,
wujud dan maknanya, serta apa dampaknya terhadap kejadian lain di masa depan.
Jadi meskipun berdasarkan pada masa lalu yang membutuhkan ingatan, sejarah juga
memuat kaitan-kaitan logis dan mencari makna, selain arti, dan kemungkinannya
untuk bisa menerangkan apa yang terjadi di masa depan: meramalkan masa depan
dengan melihat kejadian di masa lalu.
Selain itu juga perlu diketahui, bahwa karena bahan
yang dibicarakan adalah hakikat sesuatu, yang dibangun dari kemampuan nalar
para filosof sendiri-sendiri, maka menjadi wajar kalau ada suatu pemikiran di
beberapaabad yang lalu yang saat ini masih ada pengikutnya atau bangkit kembali
sebagi filsafat lama dengan “nafas baru”.
Sumber:
Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika
Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar