Aliran kritisme
dikemukakan oleh Immanuel Kant. Aliran ini dapat dianggap sebagai sintesis dari
rasionalisme dan empirisme. Menurut Kant, pengetahuan itu berpangkal pada
pengalaman (ini adalah segi empirisme dari kritisme). Pengalaman itu sendiri
belum merupakan pengetahuan, karena merupakan bahan yang belum berbentuk.
Pengalaman itu menjadi pengetahuan setelah diolah, dibentuk oleh akal kita.
Adapun kesanggupan yang berbentuk aprioris, yaitu kesanggupan yang kita miliki
tanpa pengalaman (ini adalah segi rasionalisme teori Kant).
Kritisme umumnya
dapat dibenarkan, namun tidak semua jenis pengetahuan dapat dijangkau atas
dasar akal dari pengalaman, misalnya pengetahuan atas bidang kesusilaan,
kesenian, keagamaan. Dengan demikian, sebenarnya perlu ditinjau akan adanya
kemungkinan sumber lain.
Kant membaca
karangan Hume dan berpendapat bahwa Hume telah membangunkan dirinya dari
ketiduran, karena Kant tidak pernah memikirkan persoalan innate ideas yang dikemukakan Hume. Jika Hume benar, maka Newton
omong kosong, ajaran Newton tegas didasarkan atas sebab-akibat. Kant serupa
dengan Gause, menolak Hume, tetapi tidak dapat mebuktikannya. Ia berpendapat
bahwa tidak mungkin pendapat Hume benar.
Kant berpendirian
bahwa pengetahuan kita itu tidak mungkin didasarkan pada akal (rasionalisme)
ataupun pengalaman (empirisme) semata-mata. Kant menolak, baik rasionalisme
maupun empirisme dan lebih cenderung mengawinkan kedua aliran itu, sehingga
timbullah ajaran Kant yang disebut ‘kritisme’. Ungkapannya bahwa ‘pengertian
tanpa pengamatan adalah hampa, pengamatan tanpa pengertian adalah buta’
merupakan ungkapan yang menjadi ciri esensial pemahaman ilmu pengetahuannya,
yang kemudian mendasari pengetahuan modern.
Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009.
Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar