Bagi pemeluk agama
Islam, kadang ada keraguan untuk mempelajari filsafat, seolah-olah, kalau sudah
mempelajari filsafat, maka aspek keimanan akan semakin berkurang. Bahkan konon
ada mahasiswa IAIN yang setelah belajar filsafat malah tidak mau lagi shalat.
Padahl banyak mahasiswa yang tidak shalat bukan karena mendalami filsafat.
Kalaupun ada fenomena seperti mahasiswa IAIN tadi, frekwensinya relatif kecil.
Ibarat belajar renang, mendalami filsafat butuh pembiasaan dan waktu yang relatif
lama. Bila sudah mahir maka tidak ada lagi persoalan. Ibarat belajar renang,
mendalami filsafat butuh pembiasaan dan waktu yang relatif lama. Bila sudah
mahir maka tidak ada lagi persoalan.
Secara akademis,
berfilsafat berarti mencoba berfikir secara lebih radikal (mendalam) dalam
memahami sesuatu. Dalam tradisi filsafat Barat, masalah ketuhanan pun perlu
dikaji secara filosofis. Dalam Islam Mungkin tidak sejauh memahami tentang zat
Tuhan, tetapi sekadar eksistensi Tuhan di alam ini. Seperti sabda Nami, tafakaru
fi khalqillah wal tafakaru fil khaliq (pikirkanlah semua ciptaan Allah, dan
jagan memikirkan tentang zat Allah). Namun tentang keberadaan Allah dikatikan
dengan keberadaan alam ini, boleh-boleh saja kita pikirkan, dan memang sebuah
keharusan. Imam al-Ghazali memang cenderung menempuh jalah tasawuf dalam
memahami Tuhan. Filsafat, kata al- Ghazali, tidak dapat “menemukan” Tuhan.
Mirip dengan al-Ghazali Imanuel Kant juga menunjukkan kelemahan jalan rasional
dalam memahami hakekat jiwa dan Tuhan.
Selain radikal,
mendalami filsafat juga bersifat universal (lintas batas, serba melampaui) dan
sistematis. Dan yang menjadi fokus dalam studi filsafat, secara klasik,
mengkaji tentang Tuhan, alam, dan manusia. Dalam perkembangan filsafat
kontemporer, juga mendalami soal-soal sosial-budaya, bahasa (philosophy of
language), ekonomi, politik (political philosophy), hukum, dan lain-lain.
Secara metodologis, filsafat mengkaji tentang ontologi ( hakekat sesuatu),
epistemologi (cara-cara yang digunakan dalam mengkaji hakekat sesuatu), dan
aksiologi (masalah filsafat nilai, tentang baik buruk, atau meliputi wilayah
etika).
Dalam studi
filsafat Islam, paling tidak dikenal tiga aliran; yakni aliran rasional
(peripatetik, masyaiyyah); aliran empiris (tajribiyyah); dan aliran intuitif
(isyrakiyyah, laduniyyah). Di Barat umumnya hanya dua aliran, empiris dan
rasional. Namun para era posmodernisme saat ini, dunia Barat mulai meranbah
wilayah intuitif.
Akhirnya, perlu
dimaklumi bahwa berfilsafat bukanlah segala-galanya. Karena filsafat ada
batasnya, dimana rasio sebagai alat filsafat memang amat terbatas. Filsafat
bukanlah satu-satunya jalan kebenaran, di hanya salah satu cara untu mencari
kebenaran, di samping ada jalan lain yakni jalan empiris dan intuitif.
Berfilsafat berarti lebih mendayagunakan otak kiri (berfikir liner, rasional,
sistematik), maka perlu diimbangi dengan upaya fungsionalisasi otak kanan
(berfikir sirkular, imajinatif, intuitif).
Berfikir dan
beribadah (menjalankan anjuran-anjuran agama) menikmati seni, karya seni dan
sebagainya akan lebih dapat menyeimbangkan kehidupan manusi dalam menjalankan
aktivitas kesehariannya di dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar