Logika Aristoteles,
selain mengalami perkembangan yang murni, juga dilanjutkan oleh sebagian
pemikir, tetapi dengan tekanan-tekanan yang berbeda. Thomas Hobbes,
(1632-1704) dalam karyanya Leviatham (1651) dan John Locke (1632-1704)
dalam karyanya yang bernama Essay Concerning Human Understanding (1690).
Meskipun mengikuti tradisi Aristoteles, tetapi dokrin-dokrinya sangat dikuasai
paham nominalisme. Pemikiran dipandang sebagai suatu proses manipulasi
tanda-tanda verbal dan mirip operasi-operasi dalam matematika.
Kedua tokoh ini
memberikan suatu interpretasi tentang kedudukan di dalam pengalaman. Logika
Aristoteles yang rancangan utamanya bersifat deduktif silogistik dan
menunjukkan tanda-tanda induktif berhadapan dengan dua bentuk metode pemikiran
lainnya, yakni logika fisika induktif murni sebagaimana terpapar dalam karya
Francis Bacon, Novum Organum (London, 1620) serta matematika deduktif murni
sebagaimana terurai di dalam karya Rene Descartes, Discors The La Methode
(1637).
Metode induktif
untuk menemukan kebenaran, yang direncanakan Francis Bacon, didasarkan pada
pengamatan empiris, analisis data yang diamati, penyimpulan yang terwujud dalam
hipotesis (kesimpulan sementara), dan verifikasi hipotesis melalui pengamatan
dan eksperimen lebih lanjut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar