Senin, 26 Desember 2016

Filsafat Abad Pertengahan

Zaman ini ditandai oleh tiga aliran pemikiran filsafat, yaitu Stoisisme, Epikurisme, dan neo-Platonisme. Stoisisme (Zeno, 333-262 SM) terkenal karena filsafat etikanya, manusia berbahagia jika ia bertindak rasional. Epikurisme (Epikuros, 341-270 SM) juga terkenal dalam filsafat etikanya, “kita harus memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak boleh memiliki kita”. Neo-Platonisme (Plotinos, 205-270 SM), idea kebaikan (idea tertinggi dalam Plato) disebut oleh Platinos to en = to hen, Yang Esa, The One.
Yang esa merupakan awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi, dan yang kekal. Yang Esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apapun juga. Yang Esa yaitu pusat daya, seluruh realitas berasal dari pusat itu lewat proses pancaran (emanasi), bagai matahari yang memancarkan sinarnya.
Pada periode filsafat Abad Pertengahan ini lahirlah agama sebagai kekuatan baru. Banyak filsuf yang lahir dari latar belakang rohaniawan. Dengan lahirnya agama sebagai kekuatan baru, wahyu menjadi otoritas dalam menentukan kebenaran. Sejak gereja (agama) mendominasi, peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Gereja telah membelokkan kreativitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan “The Scholastics”, sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Para filsuf aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima dari gereja secara rasional.
Di antara filsuf skolastik yang terkenal ialah Augustinus (354-430). Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikannya, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dari tidak ada (creatioex nihilo). Kehidupan yang terbaik yaitu kehidupan bertapa, dan yang terpenting yaitu cinta pada Tuhan. Ciri khas filsafat Abad Pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus (1033-1109), yaitu credo utintelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda secara logis daripada iman.


Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar