Zaman ini ditandai oleh tiga aliran
pemikiran filsafat, yaitu Stoisisme, Epikurisme, dan neo-Platonisme. Stoisisme
(Zeno, 333-262 SM) terkenal karena filsafat etikanya, manusia berbahagia jika
ia bertindak rasional. Epikurisme (Epikuros, 341-270 SM) juga terkenal dalam
filsafat etikanya, “kita harus memiliki kesenangan, tetapi kesenangan tidak
boleh memiliki kita”. Neo-Platonisme (Plotinos, 205-270 SM), idea kebaikan (idea tertinggi dalam Plato)
disebut oleh Platinos to en = to hen,
Yang Esa, The One.
Yang esa merupakan awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi,
dan yang kekal. Yang Esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat
dibandingkan atau disamakan dengan apapun juga. Yang Esa yaitu pusat daya,
seluruh realitas berasal dari pusat itu lewat proses pancaran (emanasi), bagai matahari yang memancarkan sinarnya.
Pada periode filsafat Abad Pertengahan ini lahirlah agama sebagai
kekuatan baru. Banyak filsuf yang lahir dari latar belakang rohaniawan. Dengan
lahirnya agama sebagai kekuatan baru, wahyu menjadi otoritas dalam menentukan
kebenaran. Sejak gereja (agama) mendominasi, peranan akal (filsafat) menjadi
sangat kecil. Gereja telah membelokkan kreativitas akal dan mengurangi
kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang
dikenal dengan “The Scholastics”,
sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Para filsuf aliran
skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan filosofisnya. Mereka
berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima dari gereja secara
rasional.
Di antara filsuf skolastik yang terkenal ialah Augustinus (354-430).
Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang
mengendalikannya, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran
berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dari tidak
ada (creatioex nihilo). Kehidupan
yang terbaik yaitu kehidupan bertapa, dan yang terpenting yaitu cinta pada
Tuhan. Ciri khas filsafat Abad Pertengahan ini terletak pada rumusan Santo
Anselmus (1033-1109), yaitu credo
utintelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda
secara logis daripada iman.
Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia
Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar