Senin, 26 Desember 2016

Empirisme

Empirisme merupakan aliran yang mengakui bahwa pengetahuan itu pada hakikatnya didasarkan atas pengalaman atau empiri melalui alat indra (empiri). Empirisme menolak pengetahuan yang semata-mata didasarkan akal, karena dapat dipandang sebagai spekulasi belaka dan tidak berdasarkan realitas sehingga berisiko tidak sesuai dengan kenyataan. Pengetahuan sejati harus didasarkan pada kenyataan sejati, yaitu realitas.
Tiga tokoh terkenal dalam kelompok empirisme ini adalah John Locke, Berkeley, dan David Hume.
John Locke adalah seorang tabib di Inggris yang juga penasihat raja Inggris. Ia sangat berhati-hati dalam berbicara. Ucapannya, “Tiada sesuatu pada akal yang sebelunya itu itdak ada pada indra kita.” (kebalikan dari Descartes). Jadi, indra adalah primer, sedangkan akal sekunder yang berfungsi sebagai penerima. Dengan demikian, ia menolak ‘Doctrine of innate ideas’.
Berckeley adalah seorang uskup yang lebih radikal dibanding John Locke. Ucapannya sangat tegas: ‘Esse est percipi’ atau ada karena diamati.
David Hume memberikan contoh penolakannya terhadap ‘Doctrine of innate ideas’ berupa kejadian dalam permainan billiard. Bola A digerakkan dan membentur bola B sehingga dengan sendirinya bola B bergerak. Dalam permainan bola sodok itu, ada kemungkinan bola A menyebabkan bola B bergerak. Hume mengatakan sesuatu yang sesuai dengan ucapan Berckeley ‘Esse est percipi’; mata saya akan menetap pada apa yang saa amati. Kita mengamati bola A bergerak dan kemudian bola B bergerak. Saya tidak mengamati bola A menyebabkan bola B bergerak. Jadi sebab-akibat itu tidak ada, karena tidak teramati. Sebab-akibat ini termasuk innate ideas atau idea.


Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar