Empirisme merupakan
aliran yang mengakui bahwa pengetahuan itu pada hakikatnya didasarkan atas
pengalaman atau empiri melalui alat indra (empiri). Empirisme menolak
pengetahuan yang semata-mata didasarkan akal, karena dapat dipandang sebagai
spekulasi belaka dan tidak berdasarkan realitas sehingga berisiko tidak sesuai
dengan kenyataan. Pengetahuan sejati harus didasarkan pada kenyataan sejati,
yaitu realitas.
Tiga tokoh terkenal
dalam kelompok empirisme ini adalah John Locke, Berkeley, dan David Hume.
John Locke adalah
seorang tabib di Inggris yang juga penasihat raja Inggris. Ia sangat
berhati-hati dalam berbicara. Ucapannya, “Tiada sesuatu pada akal yang
sebelunya itu itdak ada pada indra kita.” (kebalikan dari Descartes). Jadi,
indra adalah primer, sedangkan akal sekunder yang berfungsi sebagai penerima.
Dengan demikian, ia menolak ‘Doctrine of
innate ideas’.
Berckeley adalah
seorang uskup yang lebih radikal dibanding John Locke. Ucapannya sangat tegas: ‘Esse est percipi’ atau ada karena
diamati.
David Hume
memberikan contoh penolakannya terhadap ‘Doctrine
of innate ideas’ berupa kejadian dalam permainan billiard. Bola A
digerakkan dan membentur bola B sehingga dengan sendirinya bola B bergerak.
Dalam permainan bola sodok itu, ada kemungkinan bola A menyebabkan bola B
bergerak. Hume mengatakan sesuatu yang sesuai dengan ucapan Berckeley ‘Esse est percipi’; mata saya akan
menetap pada apa yang saa amati. Kita mengamati bola A bergerak dan kemudian
bola B bergerak. Saya tidak mengamati bola A menyebabkan bola B bergerak. Jadi
sebab-akibat itu tidak ada, karena tidak teramati. Sebab-akibat ini termasuk innate ideas atau idea.
Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009.
Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar