Transendental
estetika ini meneliti keindraan. Alat indra kita menimbulkan tanggapan. Menurut
Kant, setiap benda harus memenuhi ruang serta berlangsung dalam waktu.
Tanggapan ruang dan waktu merupakan satu syarat mutlak bagi setiap pengalaman
atau pengamatan suatu benda. Oleh karena itu, Kant menyebut ruang dan waktu itu
sebagai “bentuk pengamatan yang aprioris” (sebelum pengalaman). Dengan
perkataan lain, kita mengamati sesuatu dalam ruang dan waktu, bukan karena
adanya ruang dan waktu pada objek, melainkan berkat keindraan, yaitu suatu
kesanggupan budi kita; suatu makhluk yang tidak memiliki keindraan tidak akan
mungkin mengamati ruang dan waktu.
Adapun ruang dan
waktu bukan innate idea, melainkan
termasuk struktur budi kita. Misalnya, seorang yang memakai kaca mata biru maka
segala sesuatu yang dilihatnya tampak biru.
Ilmu pasti
dimungkinkan oleh bentuk pengamatan aprioris karena ada keindraan pada budi
yang memiliki struktur bentuk-bentuk aprioris sehingga dapat menyusun ruang dan
waktu. Ilmu pasti dibagi menjadi dua, yaitu ilmu ukur dan ilmu hitung. Ilmu
ukur berdasarkan ruang. Dalam menyusun ilmu ukur dibutuhkan
kesanggupan-kesanggupan untuk mengamati ruangan. Sedangkan ilmu hitung dibentuk
berdasarkan waktu. Kedua ilmu ini merupakan ilmu pengetahuan karena ilmu ukur
dan ilmu hitung terdiri atas pendapat sintetis aprioris.
Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009.
Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar