Senin, 26 Desember 2016

Transendental Estetika

Transendental estetika ini meneliti keindraan. Alat indra kita menimbulkan tanggapan. Menurut Kant, setiap benda harus memenuhi ruang serta berlangsung dalam waktu. Tanggapan ruang dan waktu merupakan satu syarat mutlak bagi setiap pengalaman atau pengamatan suatu benda. Oleh karena itu, Kant menyebut ruang dan waktu itu sebagai “bentuk pengamatan yang aprioris” (sebelum pengalaman). Dengan perkataan lain, kita mengamati sesuatu dalam ruang dan waktu, bukan karena adanya ruang dan waktu pada objek, melainkan berkat keindraan, yaitu suatu kesanggupan budi kita; suatu makhluk yang tidak memiliki keindraan tidak akan mungkin mengamati ruang dan waktu.
Adapun ruang dan waktu bukan innate idea, melainkan termasuk struktur budi kita. Misalnya, seorang yang memakai kaca mata biru maka segala sesuatu yang dilihatnya tampak biru.
Ilmu pasti dimungkinkan oleh bentuk pengamatan aprioris karena ada keindraan pada budi yang memiliki struktur bentuk-bentuk aprioris sehingga dapat menyusun ruang dan waktu. Ilmu pasti dibagi menjadi dua, yaitu ilmu ukur dan ilmu hitung. Ilmu ukur berdasarkan ruang. Dalam menyusun ilmu ukur dibutuhkan kesanggupan-kesanggupan untuk mengamati ruangan. Sedangkan ilmu hitung dibentuk berdasarkan waktu. Kedua ilmu ini merupakan ilmu pengetahuan karena ilmu ukur dan ilmu hitung terdiri atas pendapat sintetis aprioris.


Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar