Pendapat dogmatisme
ditolak skeptisisme, karena keyakinan dogmatisme dianggap tidak didasari oleh
penelaahan yang dilakukan secara tertib, mengenai dasar diperolehnya kebenaran.
Sebaliknya,
skeptisisme berpendapat bahwa orang tidak mungkin mencapai pengetahuan yang
benar karena mengetahui kebenaran pengetahuam pada hakikatnya terbatas pada
penggunaan akal yang akan berubah secara terus-menerus dari generasi ke
generasi. Apa yang dicapai ilmu pengetahuan pada saat ini akan berbeda jika
dibandingkan dengan pencapaian masa lalu, begitu pula pada masa datang. Oleh
karena itu, skeptisisme disebut juga relativisme.
Salah satu aliran
yang menggunakan cara berpikir demikian dan sangat terkenal adalah pragmatisme.
Pragmatisme menekankan pada hal-hal yang berguna untuk diperbincangkan,
termasuk pula di dalamnya aliran skeptisisme. Mereka berpendapat bahwa orang
tidak mungkin mengetahui apakah pengetahuan itu benar atau tidak. Namun, hal
itu bukan masalah, karena kebenaran pengetahuan itu tidak penting. Hal
terpenting adalah apakah kita dapat berbuat atas dasar pendapat atau
pengetahuan kita? Apakah perbuatan yang berdasarkan pengetahuan itu bermanfaat
atau tidak. Dengan perkataan lain, apakah pendapat kita itu berguna atau tidak?
Dengan demikian, pragmatisme berpendapat bahwa sesuatu yang berguna itulah yang
benar.
Sumber: Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009.
Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar