Senin, 26 Desember 2016

Filsafat Yunani Kuno

Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani. Kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan ini jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Adapun Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan. Peran agama di masa modern digantikan ilmu positif mencari asal (asas) segala sesuatu (arche). Tidakkah dibalik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu asas?
Pada masa ini filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM). Demikian juga Pythagoras (572-500 SM), belum murni rasional. Pada masa Yunani Klasik, pertanyaan yang berkembang yaitu yang berhubungan alam semesta. Ini berangkat dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, ketika manusia melihat segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka, muncul pertanyaan mengenai segala sesuatu itu.
Para filsuf zaman Yunani Klasik ini mempertanyakan hakikat kehidupan. Seperti halnya Thales, salah seorang filsuf yang hidup pada masa itu, mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab pertama kehidupan yaitu air, karena ia melihat adanya kehidupan ini karena ada air. Adapun Anaximandros menganggap penyebab pertama kehidupan itu yang tak terbatas. Selanjutnya Empedokles menyatakan api-udara-tanah-air. Heraclitus mengajar bahwa segala sesuatu mengalir “pantarei” = selalu berubah, sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan bagaimana yang satu itu muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya satu?
Filsafat lain seperti Pythagoras (580-500 SM) dikenal dengan sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Democritus (460-370 SM) dikenal dengan konsepnya tentang atom sebagai basis untuk menerangkan juga. Zeno (lahir 490 SM) berhasil mengembangkan metode reductio ad absurdum untuk meraih kesimpulan yang benar.


Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar