Bangsa Yunani merupakan bangsa yang
pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani
merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas
yang dimiliki bangsa Yunani. Kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan
sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan ini
jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Adapun Livingstone berpendapat
bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari
agama dan politik secara bersamaan. Peran agama di masa modern digantikan ilmu
positif mencari asal (asas) segala sesuatu (arche).
Tidakkah dibalik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu
asas?
Pada masa ini filsafat secara umum
sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran.
Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM).
Demikian juga Pythagoras (572-500 SM), belum murni rasional. Pada masa Yunani
Klasik, pertanyaan yang berkembang yaitu yang berhubungan alam semesta. Ini
berangkat dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya.
Sebagai contoh, ketika manusia melihat segala sesuatu yang ada di sekeliling
mereka, muncul pertanyaan mengenai segala sesuatu itu.
Para filsuf zaman Yunani Klasik ini
mempertanyakan hakikat kehidupan. Seperti halnya Thales, salah seorang filsuf
yang hidup pada masa itu, mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab pertama
kehidupan yaitu air, karena ia melihat adanya kehidupan ini karena ada air.
Adapun Anaximandros menganggap penyebab pertama kehidupan itu yang tak
terbatas. Selanjutnya Empedokles menyatakan api-udara-tanah-air. Heraclitus
mengajar bahwa segala sesuatu mengalir “pantarei”
= selalu berubah, sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama
sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan bagaimana yang satu itu
muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya
satu?
Filsafat lain seperti Pythagoras
(580-500 SM) dikenal dengan sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal
itu. Democritus (460-370 SM) dikenal dengan konsepnya tentang atom sebagai
basis untuk menerangkan juga. Zeno (lahir 490 SM) berhasil mengembangkan metode
reductio ad absurdum untuk meraih
kesimpulan yang benar.
Sumber: Latif, Mukhtar. 2014. Filsafat Ilmu. Jakarta: Prenadamedia
Group.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar