Sabtu, 31 Desember 2016

Ego

Freud mengatakan bahwa sepanjang perjalanan evolusi berkembanglah apa yang dinamakan ego atau aku yang memegang peranan penting dalam menyalurkan serta menjaring nafsu-nafsu. Sesungguhnya ego tersebut merupakan hasil terjadinya pertentangan antara prinsip dengan kenyataan yang terdapat dalam sesuatu ruang dan waktu tertentu.
Ego meliputi hampir segenap kesadaran manusia dan bertugas melakukan penyaringan terhadap nafsu-nafsu yang diijinkan muncul dari id, dan juga bertugas menekan kembali nafsu-nafsu yang bersifat merusak. Mudahnya, dapatlah dikatakan bahwa ego tersebut merupakan semacam perantara yang terdapat di antara nafsu-nafsu di dalam id dengan dunia luar yang terdiri dari kenyataan material serta kemasyarakatan. Dalam hal ini, nafsu-nafsu tertentu perlu ditekan kembali, karena jika tidak demikian orang yang bersangkutan akan menderita.
Ego tadi juga meliputi proses-proses akali jiwa manusia yang memilih-milih sarana-sarana yang dapat digunakan untuk menjelmakan nafsu-nafsu tersebut. dapat terjadi ego menekan kembali sejumlah nafsu ke dalam yang-bawah sadar, yang di dalamnya nafsu-nafsu tadi tetap melakukan kegiatan-kegiatan dan yang kemudian menimbulkan gejala-gejala penyakit syaraf, seperti fobi-fobi, keadaan-keadaan abnormal, dan sebagainya. Sebaliknya dapat juga terjadi ego tersebut melakukan sublimasi atas nafsu-nafsu itu, artinya membelokannya ke dalam saluran-saluran lain. Misalnya, seseorang yang ingin sekali menjadi ayah, namun tidak berhasil, dapat melakukan sublimasi atau nafsu tersebut dengan jalan menjadi guru.


Sumber : *Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Tiara Wacana Yogya:Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar