Freud mengatakan
bahwa sepanjang perjalanan evolusi berkembanglah apa yang dinamakan ego atau
aku yang memegang peranan penting dalam menyalurkan serta menjaring
nafsu-nafsu. Sesungguhnya ego tersebut merupakan hasil terjadinya pertentangan
antara prinsip dengan kenyataan yang terdapat dalam sesuatu ruang dan waktu
tertentu.
Ego meliputi hampir
segenap kesadaran manusia dan bertugas melakukan penyaringan terhadap
nafsu-nafsu yang diijinkan muncul dari id, dan juga bertugas menekan kembali
nafsu-nafsu yang bersifat merusak. Mudahnya, dapatlah dikatakan bahwa ego
tersebut merupakan semacam perantara yang terdapat di antara nafsu-nafsu di
dalam id dengan dunia luar yang terdiri dari kenyataan material serta
kemasyarakatan. Dalam hal ini, nafsu-nafsu tertentu perlu ditekan kembali,
karena jika tidak demikian orang yang bersangkutan akan menderita.
Ego tadi juga
meliputi proses-proses akali jiwa manusia yang memilih-milih sarana-sarana yang
dapat digunakan untuk menjelmakan nafsu-nafsu tersebut. dapat terjadi ego
menekan kembali sejumlah nafsu ke dalam yang-bawah sadar, yang di dalamnya
nafsu-nafsu tadi tetap melakukan kegiatan-kegiatan dan yang kemudian
menimbulkan gejala-gejala penyakit syaraf, seperti fobi-fobi, keadaan-keadaan
abnormal, dan sebagainya. Sebaliknya dapat juga terjadi ego tersebut melakukan
sublimasi atas nafsu-nafsu itu, artinya membelokannya ke dalam saluran-saluran
lain. Misalnya, seseorang yang ingin sekali menjadi ayah, namun tidak berhasil,
dapat melakukan sublimasi atau nafsu tersebut dengan jalan menjadi guru.
Sumber
: *Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Tiara Wacana Yogya:Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar