Telah
disebutkan bahwa objek filsafat adalah menelaah hakikat tentang Tuhan, tentang
manusia dan tentang segala realitas yang nampak di hadapan manusia. Ada
beberapa persoalan yang biasa dikedepankan dalam mencari objek filsafat
meskipun akhirnya tidak akan lepas dari ketiga hal itu, yaitu:
1.
Dari
apakah benda-benda dapat berubah menjadi lainnya, seperti perubahan oksigen dan
hidrogen menjadi air?
2.
Apakah
jaman itu yang menjadi ukuran gerakan dan ukuran wujud semua perkara?
3.
Apakah
bedanya makhluk hidup dengan makhluk yang tidak hidup?
4.
Apakah
ciri-ciri khas makhluk hidup itu?
5.
Apa
jiwa itu? Jika jiwa itu ada, apakah jiwa manusia itu abadi atau musnah?
6.
Dan
masih ada lagi pertanyaan-pertanyaan lain.
Persoalan-persoalan
tersebut membentuk ilmu fisika dan dari sini kita meningkat kepada ilmu yang
lebih umum ialah ilmu metafisika, yang membahas tentang wujud pada umumnya,
tentang sebab wujud, tentang sifat zat yang mengadakan. Dari sini kita bisa
menjawab pertanyaan: Apakah alam semesta ini wujud dengan sendirinya ataukah ia
mempunyai sebab yang tidak nampak?
Kemudian
kita dapat membuat obyek pembahasa lagi, yaitu pengetahuan/pengenalan itu
sendiri, cara-cara dan syarat-syarat kebenaran atau salahnya, dan dari sini
maka keluarlah ilmu logika (ilmu mantiq) yang tidak ada kemiripannya dengan
ilmu-ilmu positif. Kemudian kita melihat kepada akhlak dan apa yang seharusnya
diperbuat oleh perorangan, keluarga dan masyarakat, yang berbeda dengan ilmu.
Sosiologi lebih menekankan kepada pengertian tentang gejala-gejala
kemasyarakatan dan hubungannya, tanpa meneliti apa yang seharusnya terjadi.
Dari
uraian ini, maka filsafat sebagai ilmu yang mengungkap tentang wujud-wujud
melalui sebab-sebab yang jauh, yakni pengetahuan yang yakin yang sampai kepada
munculnya suatu sebab. Ilmu terhadap wujud-wujud itu adalah bersifat
keseluruhan, bukan terperinci, karena pengetahuan secara terperinci menjadi
lapangan ilmu-ilmu khusus. Oleh karena sifatnya keseluruhan, maka filsafat
hanya membicarakan benda pada umumnya atau kehidupan pada umumnya.
Dengan
demikian filsafat mencakup seluruh benda dan semua yang hidup yakni pengetahuan
terhadap sebab-sebab yang jauh yang tidak perlu lagi dicari sesudahnya.
Filsafat berusaha untuk menafsirkan hidup itu sendiri yang menjadi sebab pokok
bagi partikel-partikel itu beserta fungsi-fungsinya. Cakupan filsafat Islam
tidak jauh berbeda dari objek filsafat ini. Hanya dalam proses pencarian itu
Filsafat Islam telah diwarnai oleh nilai-nilai yang Islami. Kebebasan pola
pikirannya pun digantungkan nilai etis yakni sebuah ketergantungan yang
didasarkan pada kebenaran ajaran ialah Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar