Secara umum, Langeveld
(1959), mengatakan bahwa jika menginginkan belajar berfilsafat, mulailah
berfilsafat, ialah memikirkan segala hal secara mendalam. Maksud berpikir mendalam
disini adalah berpikir yang tidak terbatas pada asumsi-asumsi ilmu pengetahuan
yang mendasarinya, tetapi sampai pada konsekuensi-konsekuensinya yang terakhir.
Seperti yang telah diutarakan, Immanuel Kant mengatakan bahwa yang datang
kepadanya bukanlah untuk belajar filsafat, melainkan belajar berfilsafat.
Sedangkan menurut Beerling dalam bukunya “Filsafat Dewasa Ini” (1959),
menyatakan bahwa tidak semua manusia berfilsafat meskipun mereka berpikir.
Namun siapapun dapat berfilsafat berminat dan memiliki kecerdasan yang cukup.
Jadi untuk dapat berfilsafat atau mempelajari
filsafat pada dasarnya dituntut minat dan kecerdasan yang cukup; tidak berbeda
dengan mempelajari masalah atau subject matter yang lain. Bidang kajian
filsafat itu, yaitu yang disebut onjek material filsafat, ialah segala sesuatu.
Tapi dengan cara mempelajari yang tertentu, yang disebut dengan objek formal,
atau yang disebut refleksi, kontemplasi, atau perenungan untuk sampai pada
hakikatnya. Jadi objek material filsafat adalah cara berpikir refleksi.
Terdapat hal penting dalam hal ini, ialah mengenai
metode apa yang digunakan dalm filsafat, yang bisa jadi berbeda secara
signifikan atau prinsipil dibanding dengan metode belajar ilmu lain. Yang
merupakan inti dari metode berfilsafat, adalah refleksi. Berfilsafat adalah
berefleksi, merenung, dan berkontemplasi, ialah tidak memikirkan mengenai apa
yang secara konkret ada di hadapan kita secara langsung, tetapi apa yang ada di
belakang atau mendasari kita.
Sumber:
Wirahmihardja, Sutardjo A. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT Refika
Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar